Rabu, 30 Januari 2019

Pesan Ibu, "Sudah dijadwal......?"

(Foto:indscriptcreative.com)

             Menghadapi esok dengan rencana yang disusun malam hari sebelumnya. Memiliki banyak manfaat, salah satunya menghindari kemungkinan terjadinya bentrok janji yang akan merepotkan diri sendiri serta membuat orang lain kecewa.

Menjadwalkan kegiatan esok hari, saat akan istirahat atau tidur, dengan menulis di selembar kertas sudah menjadi kebiasaan saya sejak dulu. Jika ditelusur ternyata semua itu tidak lain karena jasa ibu yang mengajarkan arti disiplin dan perencanaan.

Wujud didikannya tidak rumit. Untuk menjalakan pesannya tidak berat.  Disampaikan dengan nada datar cenderung mengingatkan. Tanpa nada marah.

“Dijadwal.....”, ucap ibu saat mengetahui saya sudah selesai belajar dan akan berangkat tidur. “Wis dijadwal.......?,” (“Sudah dijadwal.....?”) ujarnya dengan maksud mengingatkan saat melihat saya sudah menutup buku atau akan beranjak dari meja belajar.
(Foto:kaskus.co.id)
Jika saya hanya terdiam atau spontan memegang mulut sambil mengeluarkan kata “Ups.....” Atau tidak membalas apa yang dikatakan ibu. Ibu tahu kalau saya lupa. Segera saya menjadwal pelajaran apa saja besok yang akan diajarkan di kelas.

Kemudian memasukkan buku-buku, menyiapkan baju olahraga di dekat tas, supaya tidak lupa dibawa. Termasuk tugas-tugas lain yang diminta guru untuk membawa sesuatu dari rumah sebagai bahan, alat atau materi pelajaran esok di sekolah. Seperti gunting, kertas berwarna, benang dan lainnya.

 Jika saya menjawab, “Sudah.” Itu artinya memang saya sudah menjadwalkannya. Pesan ibu itu selalu disampaikan saat saya masih duduk di Sekolah Dasar atau SD. Kelas berapa saya lupa, tapi saat masih kelas satu dan dua, ibu membantu serta memberi contoh apa saja yang harus dibawa dan dimasukkan ke dalam tas sekolah.

(Foto:tokopedia.com)

Kebiasaan ibu denga mengingatkan untuk menjadwal pelajaran dengan menyiapkan buku atau bahan ajar untuk pelajaran keesokan hari terus dilakukannya sampai saya kelas 6 SD. Frekuensi pesannya semakin jarang sesuai tingkatan kelas yang saya jalani.

Pesan sederhana ibu yang tidak terlupakan
Walau usia saya semakin bertambah dan saya sudah duduk di sekolah menengah pertama atau lanjutan umum atau atas. Kebiasaan menjadwalkan pelajaran selalu saya lakukan tanpa lagi harus diingatkan ibu.

Pesan sederhana  itu tidak pernah saya lupa, walau saya jauh dari ibu. Saya melanjutkan studi di kota Yogya setelah diterima di perguruan tinggi yang banyak menjadi idaman dan keinginan remaja seusia saya.

Tinggal di tempat kost, merupakan hal  baru. Namun beruntung saya memiliki ibu yang melatih untuk mengerti arti pentingnya disiplin, menjadwalkan sekaligus merencanakan.  Soal kedisiplinan, boleh dikata ibu memang cerewet . Tetapi manfaatnya saya rasakan manakala saya hidup sendiri di perantauan.

(Foto:99.co.id)

Semuanya harus diatur sendiri. Ingin malas, ingin rajin, ingin disiplin, ingin tertib atau sebaliknya semua tergantung pada diri sendiri. Namun pesan sederhana dari ibu yang tidak pernah saya lupa adalah menjadwal.

Walau bentuknya bukan lagi menjadwal mata pelajaran. Tetapi menjadwal kegiatan esok hari yang saya susun pada malam hari di kamar kost berteman lemari kecil, tempat tidur dan meja belajar.

Jadwalnya sebagaimana umumnya mahasiswa. Dari kuliah, setelah itu harus bertemu teman di kampus untuk menyelesaikan tugas kelompok, ke perpustakaan atau jadwal main ke tempat teman. Atau ikut organisasi di kampus, rapat merencanakan sebuah kegiatan dan sebagainya.

(Foto:biutifa.com)

Jika masih sekolah dasar sampai sekolah lanjutan bentuknya dengan memasukkan buku-buku pelajaran ke tas. Dan tugas-tugas sekolah lainnya yang diletakkan di dekat tas, seperti baju olahraga, kertas gambar lengkap dengan peralatannya.

Jadwal = List kegiatan
Saat kuliah di Yogya, ada yang sedikit berbeda. Memasukkan buku catatan sudah wajib sekaligus literatur bahan kuliah. Bedanya, ada selembar kertas berisi jadwal saya akan melakukan kegiatan atau aktvitas apa saja besok di meja.

(Foto: YouTube)

 Esok saat berangkat ke kampus, tinggal ambil tas dan memasukkan catatan kecil yang sudah saya buat semalam, ke dalam saku baju atau celana. Walau sekarang sudah jamannya gadget atau smartphone, saya tetap menulisnya di selembar kertas kecil. Karena kertas kecil tersebut memudahkan untuk melihat schedule atau jadwal harian. Bebas dari rasa khawatir jika hp habis baterai atau tertinggal di suatu tempat.

Isinya kadang terdiri dari beberapa point. Sampai tujuh atau delapan poin. Tetapi terkadang hanya satu atau dua poin saja karena memang esok hari tidak banyak yang harus dikerjakan atau tidak ada janji dengan teman atau dosen. Dan juga karena sedang tidak ada tugas atau kuliah sedang libur.

(Foto:workberryatfrica.com)

Pesan ibu untuk selalu menjadwal kegiatan belajar esok hari, besar manfaatnya bagi saya. Pesan itu saya terapkan sesuai kebutuhan sampai saya bekerja dan menjadi pemimpin sebuah divisi di kantor.Saya merasa kasih sayang ibu tak terbantahkan waktu.

Apalagi saat hari ibu, saya selalu ingat pesan tersebut. Belum lagi jika mendengar lagu-lagu bertemakan ibu, seperti yang dibawakan Jasmine Elektrik. Yang di launch akhir tahun 2018 bertepatan Hari Ibu di Yogya dengan “1.000 KM Jasmine Elektrik Inaguration Night” sebagai penandanya.

(Foto:http://bit.ly/ImageJasmineElektrikCeritaIbu)

Tugas dan pekerjaan di kantor bentuknya bermacam-macam. Terkadang membuat pusing dan stress tersendiri manakala banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Belum lagi tuntutan dari pimpinan, konsumen serta rekan kerja dari divisi lain.

Namun dengan menjadwal kegiatan sehari sebelumnya, beban kerja dapat terdistribusikan dengan baik dan mengurangi stress akibat tuntutan pekerjaan. 

Sore hari manakala teman-teman sekantor sudah mulai beranjak pulang, saya biasa melist atau membuat daftar tugas atau pekerjaan yang belum selesai hari ini. Atau harus selesai esok hari dalam secarik kertas. Tujuannya supaya besok pagi, saat tiba di kantor dapat segera diselesaikan terlebih dahulu.

(Foto:bocahboy.blogspot.com)
(Foto: Ko In) 

Kemudian membuat list atau daftar rencana pekerjaan, atau janji dengan kolega bisnis besok, di kertas yang sama. Isinya sederhana, hanya terdiri dari satu dua kata di kertas yang sama. Esok jika daftar kerjaan sudah dilaksanakan tinggal mencoretnya. Sehingga terlihat mana yang sudah selesai dan tertunda.

Pesan yang tidak pernah tercoret/terdelet
Setelah tersusun antara apa yang harus dikerjakan dan apa yang akan dikerjakan, yang dipisahkan dengan sebuah garis. Catatan itu saya letakkan di meja kerja saya di kantor, baru kemudian  pulang.

Tentu setelah menindih kertas catatan tersebut dengan buku, tempat pensil atau pulpen. Supaya tidak hilang dan sulit mencarinya karena diterbangkan angin atau tidak sengaja office boy kantor menjatuhkannya, saat membersihkan ruangan kerja saya.

(Foto:mgeonline.com)

Jika daftar kerjaan sudah dilaksanakan maka tinggal mencoretnya. Sehingga terlihat mana yang sudah selesai dan tertunda. Yang tertunda tinggal menjadwal ulang, atau minta bantuan teman kerja untuk menyelesaikannya, tentu sesuai skala prioritas.

Yang jelas pesan sederhana ibu tidak pernah dicoret dalam ingatan dan tak terlupakan sampai kapan pun. Tidak terdelet dari dalam kepala dan hati "Dijadwal...". Selalu terpatri di hati dan memori. Sebagaimana  #JasmineElektrikCeritaIbu mengingat pesan ibu diwujudkan dalam sebuah lagu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Itsmy blog

 It's my mine