Senin, 22 Juni 2020

Belajar Pahami Hutan Lewat Pohon

(Foto: koleksi pribadi)

Sebagian orang begitu meremehkan perubahan iklim yang terjadi sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja. Padahal dengan perubahan itu, alam berusaha untuk berkata-kata kepada manusia. Alam ingin pesannya tidak hanya didengar tetapi juga ditanggapi lewat tindakan atau perbuatan.

Sulitkah merasakan perubahan iklim yang terjadi disekitar kita? Perubahan musim yang terjadi sepanjang tahun antara panas dan dingin. Barangkali mengurangi kepekaan kita akan perubahan terkait dengan iklim secara lokal, regional atau global.

Akibatnya tidak sedikit diantara kita yang harus melihat sebuah area luasnya sekitar 2,5 km persegi dengan sejumlah pepohonan besar, tinggi dan lebat. Bernama hutan, hilang diganti dengan pemukiman, gedung tinggi berupa apartemen atau perkantoran. 

Dengan demikian tidak perlu waktu lama merasakan perubahan iklim. Mulanya sejuk terlihat asri menjadi terasa panas dan nampak gersang. Sebaiknya jangan berharap sampai melihat hal itu terjadi. Jika tidak ingin menyesali diri, yang tidak mampu melakukan sesuatu untuk menjaga kelestarian hutan dan lingkungan beserta segala isinya.

Tidak jarang kesadaran akan pentingnya mempertahankan dan menjaga hutan terlambat. Hutan secara perlahan berubah menjadi kawasan pemukiman. Diisi gedung tinggi bertingkat untuk perkantoran, mall atau apartemen, serta kegiatan ekonomi lainnya. 

Matahari menjadi lebih leluasa mengirim sinarnya sehingga dengan mudah menaikkan suhu tanah. Atap dan tembok gedung, mudah memantulkan sinarnya kesana kemari. Sehingga menjadikan iklim atau suhu sekitar kawasan tersebut menjadi lebih panas.

Mengapa kita tidak belajar peduli dengan perubahan iklim lewat sesuatu yang sederhana. Dimulai dari dekat rumah dengan merasakan perbedaan suhu atau suasana sekitar rumah. Antara ada pohon dan tidak ada pohon di sekitar rumah.

(Foto: koleksi pribadi)

Sebagian besar orang pernah mendapat pengalaman sejuknya udara dan merasakan semilirnya angin yang berhembus. Saat berada di dekat sebuah pohon. Satu pohon mampu menyadarkan sebagian orang untuk peduli dengan lingkungan karena mengerti dan sadar. Kehadiran satu pohon di lingkungan sekitar tempat tinggalnya, sangat bermanfaat. Apalagi jika sampai belasan atau puluhan jumlahnya dalam satu area.

Saat orang mulai jarang bertemu dengan pohon. Saat merasa kegerahan dan kepanasan. Orang biasanya baru menyadari perlunya kehadiran pohon. Atau sebaliknya, dimana kebutuhan akan hal yang natural seperti kesejukan. Dapat diganti dengan alat modern seperti pendingin ruangan. Lewat gambar-gambar pohon, pemandangan dengan lingkungan yang asri, dipasang di dnding atau tembok rumah, tempat kerja, hotel atau ruang pertemuan. Termasuk di layar laptop serta telpon pintar. 

Orang merindukan kehadiran hutan kemudian berhalusinasi akan keberadaan hutan lewat gambar-gambar. Dampak deforestasi, menjangkiti sebagian orang sebagai sebuah penyakit sosial. 

Deforestasi adalah istilah untuk menyebut sebuah aktivitas atau kegiatan di kawasan atau lingkungan hutan dengan melakukan penebangan secara besar-besaran. Sehingga ada yang menyebut deforestasi ini merupakan penggundulan hutan.

Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan deforestasi sebagai penebangan hutan di areal hutan dimana pohon-pohonnya ditebang habis, kemudian lahannya digunakan atau diubah fungsinya. Seperti untuk pertanian, peternakan, pemukiman.

Dalam Peraturan Menteri Kehutanan No. P.30/ Menhut II/ 2009 tentang Tata Cara Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan, tegas menyebutkan yang dimaksud deforestasi adalah perubahan secara permanen dari areal berhutan menjadi tidak berhutan yang diakibatkan oleh kegiatan manusia.

(Foto: koleksi pribadi)

Penyakit Generasi Instan, Berhalusinasi tentang Hutan
Dapat dibayangkan bagaimana dampak hilangnya sejumlah pohon atau tanaman di sebuah kawasan yang jumlahnya tidak sedikit. Sementara itu, saat pohon jambu di halaman rumah kita. Pohon mangga atau pohon rambutan yang terletak di depan rumah ditebang, memberikan efek perubahan suhu disekitar rumah. Kita menjadi sering mengeluh kepanasan. 

Berhalusinasi akan keberadaan hutan di tengah-tengah lingkungannya namun tidak melakukan aksi atau tindakan apapun demi menjaga, merawat atau menghadirkan hutan secara nyata. Baik di dekat atau jauh dari kota tempat tinggalnya. Kebijakan menghadirkan hutan kota pun nampak ogah-ogahan.

Deforestasi tidak hanya mempengaruhi perubahan iklim tetapi juga perubahan sosial ekologis dan sosio kultural yang menimbulkan berbagai gesekan kepentingan antar mahluk hidup. Demikian pula dengan tanah atau bumi akan menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi di atasnya. Baik atau buruk dampaknya ? Bumi yang akan menjawabnya. 

Manakala tinggal di atas bumi menjadi kurang nyaman karena terlalu panas atau terlalu dingin. Bumi sejatinya sedang menjawab segala perilaku manusia terkait kepeduliannya dengan masalah lingkungan hidup. Bumi memberi imbal balik sesuai apa yang kita perbuat.

Bumi akan memberi hal yang baik manakala kita menanam dan merawat satu pohon di dekat rumah, tempat kerja atau kantor. Terlibat dalam proses pertumbuhan sebuah pohon, sekaligus terlibat nyata dalam melestarikan lingkungan hidup.

Tapi rasanya itu hanya mimpi ditengah gelombang budaya instant yang sudah merasuk diberbagai kehidupan masyarakat. Sebuah mimpi yang dulu pernah kami lakukan dalam komunitas peduli lingkungan bernama Seribu Daun.

Mimpi menanam dan membagikan bibit pohon mahoni agar ditanam di sisi kanan kiri jalan. Apakah jalan perkampungan, jalan di desa atau jalan raya yang ramai oleh lalu lalang kendaraan. 

(Foto: koleksi pribadi)

Inspirasinya saat melewati kawasan Kotabaru Yogyakarta yang terkesan adem banyak pohon tanjung, beringin dan mahoni. Kerap terdengar kicauan burung kutilang di antara pepohonan yang tumbuh di sekitar jalan utama di salah satu kawasan yang cukup padat di Yogya. Tidak jarang melihat burung perkutut atau derkuku bebas turun ke jalan beraspal atau halaman kantor yang berumput, seperti mencari sesuatu. 

Hal itu menginspirasi kami untuk mengumpulkan dan memanfaatkan biji pohon mahoni, untuk dijadikan bibit. Hasilnya bibit mahoni siap tanam. Tapi mengajak orang peduli lingkungan dengan menanam pohon mahoni  bukan perkara mudah. Pada akhirnya bibit tersebut kam bagikan ke mahasiswa yang sedang melakukan kuliah kerja nyata atau KKN di sebuah daerah masih di wilayah Yogyakarta.

Ingin rasanya mengumpulkan biji-biji mahoni  kembali, dengan harapan setelah jadi bibit dapat dibagikan ke sekolah, kantor atau tempat publik lainnya. Tapi apakah sekolah-sekolah masih memiliki lahan guna memberi kesempatan pohon tumbuh ? Memberi kesempatan siswa untuk menikmati dan memahami arti kata teduh dan sejuk dari pohon. Bukan dari alat pendingin ruangan atau AC. Supaya mereka lebih paham akan hutan.

Paham bahwa udara bersih itu salah satunya dari pohon dan teman-temannya yang bergerombol di suatu area atau kawasan yang dinamakan hutan. Alangkah akan lebih mudah orang memahami pentingnya hutan dan udara bersih jika di tiap kota memiliki hutan kota.

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog "Perubahan Iklim" yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Itsmy blog

 It's my mine