Kamis, 29 Maret 2018

IDNTimes dari Alas Kaki, Listicle sampai Gado-Gado



                                  
                Jujur, saya rindu tulisan seperti  tulisan Ni Nyoman Ayu Suciartini, yang diunggahnya di www.idntimes.com  dengan judul,” Alas Kaki Wanita dan Tentang Harga Dirinya”. Tulisan ini mestinya  menyadarkan siapa saja yang merasa dirinya bangga menjadi bagian dari dunia kekinian.
Dunia yang menggiring  orang menjadi mahluk yang konsumtif, terbuai tampilan  atau pencitraan lewat medsos. Menjadikan dirinya merasa paling mengerti tentang dunia. Berlagak menjadi orang paling benar dan tahu, walau pengetahuannya masih sejengkal. Tetapi perilakunya jauh dari nalar yang sehat dan congkaknya minta ampun.

Alas kaki teman Ayu
Apa yang ditulis Ni Nyoman Ayu adalah realitas perilaku orang-orang yang bangga menyebutnya generasi jaman now. Generasi yang mudah dibujuk oleh aneka macam bentuk pencitraan. Lewat berbagai  atribusi yang menjadikan segala sesuatu nampak manis.                              Ayu mungkin merasa jengah dengan perilaku temannya, sehingga apa yang ditulisnya di www.idntimes.com adalah harapan serta tuntutan  agar orang mampu berpikir secara sehat.
Akal atau nalar mesti dijaga kewarasannya. Selalu diasah supaya tidak tumpul dengan cara berpikir yang analistis. Mampu bersikap kritis, melihat segala sesuatunya secara menyeluruh dan sampai pada esensi atau akarnya. Melihat persoalan secara konstektual dan tidak malas berpikir hanya karena mudah menerima sejuta tawaran informasi di layar gadget.
Mulanya Ayu heran dengan ulah temannya  yang terlalu terlalu repot dengan sandalnya. Setelah tahu harga sandal itu mencapai Rp 500 ribu. Ayu bingung, apakah dirinya yang tidak tahu dan bodoh atau temannya yang tidak waras.
Hingga muncul pertanyaan yang sarat makna. “Apakah sandal itu sudah memiliki kepastian akan membawa kakimu melangkah menuju hal-hal baik? “ Lalu dijawab oleh temannya dengan singkat:
Ini kekinian
Ayu membalas, “Otak juga harus kekinian dong.”
Jawaban lugas Ayu mestinya menjadi renungan bagi siapa saja yang terlibat sebagai warga dunia maya atau Netizen.

                                        
                                                              www.lazada.co.id
Siapa saja yang merasa dirinya user dan produsen konten di dunia maya mesti memikirkan lebih dalam tentang makna kekinian. Sebab tidak sedikit netizen,  mengalami apa yang disebut dengan dekadensi  moral. Mudah mengunggah gambar , video serta memposting sesuatu yang jauh dari pertimbangan moral serta kepantasan manusia yang memiliki citra sebagai mahlukyang beradab.

IDNTimes dan teman-temannya
Bagi sebagian orang, generasi now tidak ubahnya seperti generasi tunduk, generasi yang sibuk dan asyik dengan   gadgetnya.  Realitas seolah hanya ada di layar  smartphonenya, menjadikannya lupa dan tidak peduli dengan lingkungan. Tidak lagi memiliki sikap santun, jauh dari keinginan untuk belajar menjadi orang yang arif di dunia nyata.
Tulisan Ayu menjadi pelepas dahaga kerinduan menikmati tulisan yang mampu mengajak untuk merenung , melihat diri sendiri, sudah berbuat baik apa dan bermanfaat  untuk hidup yang nyata ini.

                                 Generasi Nunuduk? (Foto: Ko In)

IDN Times, web yang menyajikan berbagai macam informasi. Semestinya menjadi panduan sebagaimana  mercusuar yang memandu kapal agar tidak menabrak karang. Sekaligus sebagai panduan agar kapal berlabuh ke pulau setelah lelah mengarungi luas dan ganasnya lautan. Untuk istirahat, merenungkan berbagai pengalaman yang didapat usai mengarungi  samudra.
Jika Ayu menulis,” Alas Kaki Wanita dan Tentang Harga Dirinya”. Sesungguhnya bukan kritik terhadap wanita saja. Tetapi kepada semua warga net.  Sudah sepatutnya IDN Times  introspeksi diri dengan konten atau tampilan yang disajikan ke warga  dunia maya.

                                                 Foto; www.idntimes.com

Pertama , membaca judul-judul rubrikasinya . Muncul pertanyaan dalam hati. Apa salahnya  dengan bahasa Indonesia sehingga nama-nama rubrik di IDN Times semua memakai bahasa asing. Seolah bahasa Indonesia di sub ordinatkan menjadi bahasa tidak penting. Menjadi bahasa kedua setelah “klik”  “How to”, ”About”,  “ Attitude”, “Fun Fact”. Baru muncul kata-kata dalam bahasa Indonesia.
Mengapa menganak tirikan bahasa sendiri. Jika kurang pas atau kurang sreg dengan pilihan bahasa Indonesia untuk menggantikan kata-kata asing. Mengapa tidak mencari kata yang sepadan yang artinya hampir sama dengan kata bahasa Indonesia lainnya.
Bukannya anti perubahan, anti kemajuan, anti modernitas. Tetapi siapa lagi yang harus menjaga karakter bangsa lewat bahasa jika tidak generasi sekarang, generasi kekinian. Jika generasi now sudah tidak peduli.
Kedua,  penggunaan model  listicle atau list article yang mulai membudaya di www.idntimes.com  . Terasa sangat mengganggu terkait konteks isi tulisan secara keseluruhan. Terlalu memanjakan pembaca sehingga isi tulisan tersebut tidak runut dalam sebuah kesatuan artikel sehingga terkesan terpisah-pisah. Seperti  penggalan-penggalan cerita yang tidak memiliki hubungan ide. Terkotak-kotak, ada sekat satu dengan lainnya .

                                               Foto: www:idntimes.com

Celakanya , model itu diterapkan dalam rubrik atau kolom opini. Padahal setiap kata atau kalimat dalam kolom opini semestinya saling terkait, menguatkan dan mendukung sehingga tercermin gagasan atau pemikiran yang utuh.
Sayangnya hal itu mulai dibudayakan oleh beberapa pengelola web. Padahal jika menelusuri manfaat list atau poin-poin, itu merupakan keterangan singkat yang dibaca sambil lalu. Bukan sebuah uraian panjang yang dibuat list, sebagaimana nampak dalam beberapa tulisan yang di unggah di web IDN Times.
Sekalilagi bukannya tidak setuju dan menolak hal baru dengan penggunaan list. Tetapi  alangkah baiknya jika penggunaanya sesuai porsi atau konteksnya. Tidak campur aduk. Listicle memang memudahkan tetapi apa jadinya jika membuat orang malas membaca, malas menggunakan akalnya. Hanya cari mudahnya. Bisa jadi seperti yang dialami teman Ayu .
Fungsi sandal sebagai pelindung kaki menjadi berubah. Menjadi sandal yang dipakai di kaki tetapi tidak boleh terkena kotoran karena harganya setengah juta rupiah.
                                  Gado-gado (Foto:Ko In)

Menulis dan membaca itu adalah kegiatan nalar. Maka tidak heran jika tidak sedikit orang yang cara berpikirnya tidak waras karena pola  berpikirnya sudah salah kaprah. Campur baur tidak karuan dan tidak semestinya.  Jika menulis diibaratkan seperti membuat gado-gado.
Ketiga, tidak sedikit tulisan sumbangan dari mereka yang menamakan dirinya penulis, yang mengisi web.idntimes.com.  Isinya merupakan daur ulang. Comot sana-sini. Mengambil informasi lama, dipoles sedikit kemudian dipasangkan dengan informasi kekinian. Jadilah sebuah tulisan .
Persis seperti kain perca. Kain yang terbuat dari potongan-potongan kain tidak berguna , didaur ulang menjadi lembaran kain seolah nampak baru. Kemudian memberi kepuasan semu kepada penulis atau pembuatnya. Apalagi saat tayang menjadi trend atau mendapat viewer banyak.
Menulis itu kegiatan intelektual, kegiatan nalar, mengasah kemampuan akal untuk berpikir kritis dan analistis. Bukan pengrajin kain perca atau patchwork. Kemudian bangga tulisannya menjadi viral.
                               www.peluangusaharumahan.info
Viral sebuah nilai baru terkait dengan popularitas.  Kepopuleran menjadi sebuah tujuan namun lupa ada nilai yang mestinya diemban supaya popularitas itu bermakna dan berarti bagi banyak orang. Bukan hanya untuk diri sendiri.
Mengapa tidak belajar dari kasus-kasus viral lain. Semisal, “Om, Tolelot Om...” atau kisah memburu pokemon. Tiba-tiba populer dan viral. Tapi setelah itu hilang seperti tertiup angin. Apakah menjadi sampah digital atau sampah teknologi?  
Namun apa yang telah diberikan  Ni Nyoman Ayu Suciartini lewat tulisan “Alas Kaki Wanita dan Tentang Harga Dirinya”. Mestinya membuka cakrawala berpikir bagi siapa saja yang membacanya. Menjadi pemantik ide, memunculkan tulisan kreatif lainnya yang dapat menggugah hati nurani. Agar tulisan yang dihasilkan menjadi berarti bagi yang membaca.
                                 www.androidcentral.com
Bukan tulisan yang sekali baca habis tidak membekas di hati. Sekedar informasi. Suka mendaur ulang disajikan dalam kemasan baru . Dibaca tetapi habis itu kembali menjadi sampah digital.
Keempat, saatnya IDN Times terlibat dan berperan aktif membangun generasi yang berkepribadian. Menjadikan manusia modern yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Santun, rendah hati, menghargai orang lain tanpa harus merendahkan diri.
Menjaga generasi yang kreatif dan inovatif, melakukan perubahan berdasarkan kebaikan dan keberadaban sebagai manusia. IDN Times harus terlibat dalam mencerdaskan generasi kekinian tanpa harus menjadikan mereka congkak atau sombong.
Dunia maya adalah dunia yang minim komitmen. Jika tidak suka terhadap konten tertentu tinggal menggerakkan jari-jari mencari konten lain. Uninstal program, pilih unfriend  atau tinggal di block. Mudah, gampang dan tidak rumit. Tidak seperti pertemanan di dunia nyata yang tidak jarang makan hati serta perasaan.
                                www.playgoogle.com
Mencari mudah mungkin itu bagian dari naluri manusia. Tetapi tidak juga berarti enak-enakan terus sehingga menjadi budaya. Akibatnya menjadi minim tanggung jawab dengan apa yang telah di unggah atau disajikan.
Kata maaf menjadi kata yang sangat mahal di dunai maya. Isinya hanya saling berbantah. Mempertahankan kebenarannya dengan argumen yang dangkal bahkan tidak berdasar pada data dan fakta.  
Kelima, tiba waktunya www.idntimes.com memberikan teladan atau contoh bagaimana cara menunjukkan penyesalan dengan kata maaf atau tindakan, saat melakukan kesalahan.
Ayu Suciartini melukiskan dengan manis hal itu dalam tulisannya. “Lalu saya memeluknya untuk menguatkan dia yang tampak menyesal menunjukkan kebanggaannya di hadapan saya. Pelukan ini juga untuk membuatnya merasa lebih baik saat otaknya mulai berpikir sedikit waras tentang semua pertanyaan saya.”

Gunanya teman
Barangkali pelukan itu juga sebagai tanda maaf Ayu yang merasa telah menyinggung harga diri dan perasaan temannya. Tapi saya yakin itu karena Ayu memiliki niat baik kepada temannya.
 Teman yang baik adalah teman yang menyampaikan apa adanya. Tanpa harus menjual harga dirinya demi sebuah persahabatan lewat kepura-puraan. Nampak manis di depan tetapi siap menusuk dari belakang.
                                 www.yosbeda.com
Walau tidak jarang kritikan dan masukan itu membuat merah telinga dan sakit di hati. Tetapi itulah gunanya teman. Bukan teman yang hanya bisa memuji tetapi membiarkanmu jatuh dalam lubang penderitaan yang dalam.
Non aqua, non igni, ut aiunt, locis pluribus utimur quam amicitia. Kata orang, kita bergaul bukan dengan air atau api, tetapi dengan persahabatan.
Oleh karena itu mohon maaf kepada www.idntimes.com  dan para komunitas penulisnya atau community writter. Bukan bermaksud membuat sakit hati banyak orang dengan menulis review ini. Tetapi hanya karena ingin IDN Times Indonesia dan para penulisnya menjadi lebih kreatif dan inovatif dalam berkarya.  Itu saja.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Itsmy blog

 It's my mine