Rabu, 04 April 2018

Mendengar dengan Hati

Mendengar dengan Hati
Seni instalasi, kolam dan bunga (Foto:Ko In)
Hidup itu proses. Kemana dan bagaimana semua orang tidak akan mengerti  titik akhirnya.  Namun hidup itu selalu mambawa makna bagi jiwa agar menjadi pribadi yang dewasa.
Berproses itu artinya bersama menjadi bagian dalam sebuah tindakan, bekerja, berkarya, terlibat langsung untuk mengalami peristiwa yang membuahkan pengalaman secara empirik, rasional serta psikologis. Hasil bukan menjadi satu-satunya tujuan.
brosur kegiatan (foto: Ko In)
brosur kegiatan (foto: Ko In)
Pengalaman berkreasi dengan bahan kaca, kawat, tanah liat dan kayu bagi sebagian orang mungkin sesuatu yang baru. Walau setiap hari mereka menjumpai atau memakainya. Namun manakala dituntut untuk membentuk suatu benda dengan memilki nilai seni dari bahan tersebut. Orang mungkin akan mencari seribu alasan untuk mencoba mengelak dan melarikan diri dari tantangan.
Tetapi tidak demikian dengan sekitar 40 orang yang mengikuti kegiatan Gaia Art Movement  dengan tajuk Hear Art yang berlangsung 24 Maret lalu di Gaia Cosmo Hotel Yogyakarta. Kegiatan berupa  workshop,  hotel design and art tour, artist talk dan diskusi menjadi sarana mengasah rasa, dan akal budi. Kegiatan workshop  seni  diisi oleh seniman Yogyakarta yang karya instalasinya dipajang di sekitar hotel Gaia Cosmo.

Karya Apri (foto:Ko In)
Karya Apri (foto:Ko In)
Workshop berlangsung persis di samping kolam renang, sehingga peserta  dapat melihat salah satu karya seniman milik Apri Susanto yang berjejer di pinggir kolam. Peserta mendapat kesempatan untuk mempraktekkan ilmu yang dieroleh dari senimannya. Merasakan bagaimana merubah tanah liat menjadi keramik yang nampak indah , menyatu dengan lingkungan sekitar. Antara tembok dengan kolam renang sehingga semakin menghidupkan atmosfir sekitarnya.
Apa yang terlihat nampak mudah namun saat peserta diminta untuk membuat karya seni dari tanah liat dengan ukuran lebih kecil. Mereka sadar untuk membuat sebuah karya seni butuh kesabaran, keuletan, serta daya imajinasi yang tinggi.
Karya peserta (foto: Ko In)
Karya peserta (foto: Ko In)
Membuat karya seni bukan hal yang instant semudah membalik tangan, terkadang butuh waktu berhari-hari. Sebuah karya seni tidak dapat dibuat begitu saja. Cukup menyebutkan "sim sala bim", jadilah karya yang diinginkan.
Semua butuh waktu, peserta workshop yang memiliki berbagai macam latar belakang,  mengalami  bagaimanan tidak mudahnya membentuk tanah liat agar menjadi sesuatu yang menarik dan indah dilihat.
Mulut mereka terbuka lebar sambil berkata "Oooo....".  Dengan kedua mata yang juga ikut terbuka lebar saat mendapat penjelasan dari Apri  bahwa hasil karya mereka  belum dapat dikatakan selesai. Karena harus dijemur dan dibakar sehingga membutuhkan waktu beberapa hari.
Usai dijemur tanah lait yang sudah nampak kering masih harus dibakar dengan suhu di atas 300 derajat Celsius. Usai dibakar tidak dapat langsung di sempurnakan karena harus menunggu dingin. Muncul kesadaran diantara peserta workshop bahwa proses itu bagian tidak terpisahkan dari sebuah penciptaan  karya seni.
Tungku Bakar (Foto: Ko In)
Tungku Bakar (Foto: Ko In)
Peserta workshop nampak sangat antusias menikmati kegiatan yang berlangsung di tepi kolam. Mereka tidak hanya belajar berproses merubah tanah liat menjadi keramiki tetapi juga berproses membuat gantungan kunci dari kayu lapis, yang desainnya dibuat sesuai selera mereka sendiri. Dari nama diri atau bentuk yang diinginkan.  
Aktiviitas peserta (Foto: Ko In)
Aktiviitas peserta (Foto: Ko In)
Dedy Shofianto, nampak tekun mendampingi para peserta dan sesekali memberi arahan bagaimana memotong atau memperhalus bentuk kerajinan yang dibuat para peserta workshop. Mereka menerima tantangan untuk membuat desain gantungan kunci yang berbentuk gambar sesuka hati mereka.
Dedy memberi tantangan yang  tidak begitu rumit menurutnya  kepada para pesarta workshop dengan memanfaatkan kayu lapis sebagai bahan dasar utama. Para peserta nampak bersemangat untuk mencoba sesuatu yang baru.
Dari bahan sederhana peserta semakin bertambah pengalamannya terkait masalah keindahan. Indah itu tidak harus membutuhkan sesuatu yang mahal. Tetapi bagaimana memanfaatkan barang yang ada di sekitar seperti kayu agar menjadi nampak indah lewat proses kretif menjadi barang yang memiliki nilai ekonomi   tinggi.
Karya seni instalasi Dedy dapat di nikmati tidak jauh dari restoran yang ada di lantai dua Hotel Gaia Cosmo. Angsa- angsa terbang yang berarak-arakan diantara awan.
Angsa karya Dedy (foto:Riana Dewie)
Angsa karya Dedy (foto:Riana Dewie)
Ivan Bestari tidak ingin kalah menunjukkan kreatifitasnya kepada para peserta workshop dengan memanfaatkan aneka botol bekas yang terbuat dari kaca untuk dijadikan karya seni yang terlihat sangat eksklusif. 
Dari botol bekas, Ivan menunjukkan bagaimana membuat karya seni yang nampak mewah terbuat dari barang yang dianggap sudah tidak berguna dan sering dianggap sebagai sampah.
8a-jpg-5abf23be16835f786051b576.jpg
8a-jpg-5abf23be16835f786051b576.jpg
memanfaatkan barang bekas (Foto:Ko In)
memanfaatkan barang bekas (Foto:Ko In)
 Karya Ivan ditempatkan di salah satu space khusus di Gaia Cosmo hotel sehingga menambah tampilan hotel yang berada di seputaran Timoho Yogya sangat elegant. Apalagi saat malam hari, karya Ivan mendapat sorotan lampu sehingga muncul efek warna warni dari karya seninya.
Seni instalasi Ivan (foto:Riana Dewie)
Seni instalasi Ivan (foto:Riana Dewie)
Tidak ketinggalan Ludira Yudha ikut memberi tantangan kepada peserta untuk membentuk sebuah karya seni dari kawat. Ketrampilan menjalin kawat yang panjang sehingga terbentuk bulatan seperti bola, ternyata tidak mudah.
Tidak sedikit peserta workshop mengerutkan keningnya dan serius mencoba berkali-kali bagaimana menaklukkan kawat panjang agar dapat menjadi bulat seperti bola.  
Yudha memberi contoh membuat seni dari kawat (Foto:Ko In)
Yudha memberi contoh membuat seni dari kawat (Foto:Ko In)
Karya seni instalasi Ludira tertempel apik di salah satu dinding hotel Gaia Cosmo sehingga tamu yang menginap dapat menikmati karya Ludira Yudha dimana total panjang kawat kira-kira 700 kilometer, jarak dari Yogya ke Solo.
Karya Lusita Yudha dengan kawat (foto:Riana Dewie)
Karya Ludira Yudha dengan kawat (foto:Riana Dewie)
Sementara sebagian peserta workshop sibuk dengan "permainan" baru. Sebagian peserta  lainya diajak melihat karya Dery Pratama yang terbuat dari bahan keras metal atau tembaga.Ukurannya cukup besar sehingga ditempatkan di luar tidak jauh dari restorant . Tamu yang menikmati makanan atau minuman dapat sekaligus menikmati keindahan karya Dery .
bagian karya Dery (foto: Ko In)
bagian karya Dery (foto: Ko In)
Foto: Ko In dan Riana Dewie
Foto: Ko In dan Riana Dewie
Proses kreatif yang penuh tantangan bagi para seniman muda Yogyakarta untuk mempercantik ruang-ruang kosong di hotel agar menjadikan suasana hotel tidak kaku tetapi kaya akan sentuhan seni sehingga memberi kesan tersendiri bagi Gaia Cosmo Hotel.
Karya seni sejatinya tidak hanya memanjakan panca indera. Seni itu bicara dengan rasa. Tinggal bagaimana hati itu mampu mendengarnya. Untuk itu perlu belajar mendengar seni dengan hati,  hear art with heart.

Mendengar dengan hati, melihat dengan hati di www.kompasiana.com/koin1903  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Itsmy blog

 It's my mine