Sabtu, 18 Agustus 2018

Generasi Millenial, antara Rebranding Koperasi dan Filosofi Metamorfosis



Generasi Millenial, antara Rebranding Koperasi dan Filosofi Metamorfosis
(Foto: www.pinterest.ei)
Panta rhei kai uden menei. Semuanya mengalir dan tidak ada sesuatu yang tinggal menetap. Seperti sebuah sungai, semuanya terus berubah. Menurut Herakleitos, filsuf kelahiran Yunani melihat alam semesta dengan segala isinya tidak ada yang tetap, selalu berubah dari waktu ke waktu.
Herakleitos, hidup sekitar tahun 500 sebelum Masehi, memaknai  yang ada di dunia ini adalah perubahan. Esensi hidup adalah perubahan itu sendiri. Terus bergerak tidak ada yang tetap. Jika tidak berubah maka makna hidup dan keberadaannya patut dipertanyakan.
Manusia selalu terlibat dalam tiap perubahan termasuk pikiran serta cara pandang terhadap hidup dan kehidupan merupakan bagian dari dinamika hidup itu sendiri. Seperti air sungai yang terus bergerak atau mengalir. Nampak sama namun sejatinya air itu tidak tetap. Berganti dari waktu ke waktu.
(Foto: www.jurnaltoddopuli.wordpress.com)
(Foto: www.jurnaltoddopuli.wordpress.com)
Koperasi mesti tangguh, berkaca dari koperasi Restauran Indonesia
Hidup manusia itu dinamis tidak lepas dari kegiatan ekonomis, ingin hidup makmur dan sejahtera. Untuk mencapainya, bangsa ini telah mengaturnya dalam UUD 1945 pasal 33 ayat 1, "Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan".
Pada bagian penjelasan menyebutkan bahwa produksi dikerjakan oleh semua, untuk semua, di bawah pimpinan atau pemilikan anggota-anggota masyarakat. Kemakmuran masyarakat itu yang utama bukan kemakmuran orang-seorang. Oleh sebab itu perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan. Bangun perusahaan yang sesuai dengan itu ialah koperasi.
(Foto:www.suara.com)
(Foto:www.suara.com)
Koperasi sangat strategis karena menjadi soko guru perekonomian nasional. Posisinya dipertegas dengan kehadiran UU no 25 tahun 1992 tentang  Perkoperasiaan. Dalam perjalanannya, dinamika keberadaan koperasi belum begitu terasa bahkan seolah mengalami stagnasi atau kemandegan dalam kurun waktu tertentu. Jika bergerak terkesan hanya jalan di tempat .
Walau jumlahnya ribuan, kontribusi koperasi di Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto Nasional (PDB) tahun 2014 hanya 1,71 persen. Padahal jumlahnya mencapai 209.488 unit koperasi.  
Tahun 2016 jumlah koperasi naik menjadi  212.135 unit, kontribusi terhadap PDB juga naik sebesar 3,99 persen. Setahun kemudian kontribusi itu kembali naik jadi 4,48 persen walau jumlah koperasi turun menjadi 153.171 unit. Penurunan jumlah ini karena sebagian koperasi ditutup sebab tidak aktif dan melanggar ketentuan.
(Foto:www.tangselpos.co.id)
(Foto:www.tangselpos.co.id)
(Foto:www.kapuas.info)
(Foto:www.kapuas.info)
Walau mengalami pertumbuhan dalam kontribusi PDB, penutupan sejumlah koperasi merupakan salah satu upaya mengembalikan citra koperasi. Bukan lagi sebagai alat kepentingan politik dan bukan lembaga sekedar ada dan minim makna serta manfaat.
Nampaknya kualitas menjadi pilihan. Kuantitas atau jumlah bukannya tidak penting tetapi keberadaan koperasi yang sekedar papan nama akan memperburuk citra koperasi. Koperasi mesti tangguh terhadap setiap perubahan dan tantangan jaman yang begitu cepat dan dinamis.
(Foto:Ko In)
(Foto:Ko In)
Koperasi menurut, Mohammad Hatta, menentang segala paham yang berbau individualis dan kapitalis. Mengutamakan kepentingan masyarakat daripada kepentingan individu atau golongan sendiri. Selain itu koperasi mendidik sikap untuk menolong diri sendiri.
Hatta peletak dasar ekonomi kerakyatan Indonesia menyebutkan bahwa koperasi itu anasir pendidikan ekonomi dan moral yang kuat karena berdasar pada solidaritas atau setia kawan dan keinsyafan akan harga diri.
(Foto:Ko In)
(Foto:Ko In)
Mereka yang pernah menjadi korban panasnya politik di tanah air membuktikan bahwa lewat koperasi, solidaritas dan harga diri terhadap martabat bangsa dapat mereka jaga. Walau mereka berada bermil-mil jauhnya dari tanah air.
Bertolak dari kesadaran agar mampu bertahan hidup di Paris, Prancis sebagian anak-anak negeri yang teralienasi secara politis, mendirikan SCOP Fraternite Restaurant Indonesia. SCOP singkatan dari Societe Cooperative d'Ouvries Pour la Production atau Badan Koperasi Kaum Buruh Untuk Usaha Produktif.
Mengapa koperasi menjadi pilihan? Menurut JJ. Kusni salah  satu pendiri Restauran Indonesia, hal itu bertolak  dari ide kebersamaan menolak individualisme dan koperasi  merupakan alat yang mampu menggugah solidaritas kemanusiaan dan keadilan.
(Foto:www.catatanbaskoro.wordpress.com)
(Foto:www.catatanbaskoro.wordpress.com)
Dalam bukunya  "Membela Martabat Diri dan Indonesia, Koperasi Restoran  Indonesia di Paris", JJ. Kusni menjelaskan bentuk koperasi menunjukkan semangat dan usaha bersama secara kolektif untuk bersama-sama mengatasi persoalan mereka demi kehidupan manusiawi bersama.

Membandingkan bentuk usaha koperasi dengan bentuk ekonomi yang saat ini dominan, yang kapitalistik seperti menentang arus. Namun dalam kenyataan, sistem kooperatif dengan menerapkan hukum-hukum umum ekonomi tetap bisa bertahan dan berkembang dalam berbagai bidang usaha sebagai sistem paralel dengan sistem kapitalis. (JJ. Kusni, Membela Martabat Diri dan Indonesia)


Koperasi Restoran Indonesia yang lebih dikenal dengan sebutan Restauran Indonesia, hadir di era millenial, kelahirannya dibidani oleh para intelektual yang usianya tidak lagi muda karena  alasan utama mencoba untuk bertahan hidup di negeri perantauan Prancis. Kini koperasi itu tetap eksis walau usianya sudah mencapai kepala tiga, 35 tahun.
Keberadaanya mestinya mampu membuka mata bagi siapa saja bahwa sistem usaha berbentuk koperasi tidak dapat dipandang remeh.
Berbeda dengan kenyataan di negeri sendiri bagaimana tidak mudah melepas bayang-bayang sebagian koperasi di Indonesia yang nampak kusam, kotor dan tidak menarik. Kegiatan usahanya seolah-olah sebatas simpan pinjam, menjual alat tulis kantor (ATK) dan foto copy. Belum lagi imej yang kurang dinamis, hanya untuk  generasi old, kurang ramah, terkesan ketinggalan jaman dan tidak visionable bagi generasi millenial.
(Foto:www.dayanaikap.blogspot.com
(Foto:www.dayanaikap.blogspot.com
(Foto:www.ksukencanamakmurcabangbrondong.blogspot.com)
(Foto:www.ksukencanamakmurcabangbrondong.blogspot.com)
Generasi millenial, koperasi dan rebranding
Generasi millenial lahir antara tahun 1980 sampai 2000an. Usianya berkisar antara 18 sampai 38 tahun. Lahir dalam masa dimana teknologi komunikasi mengalami kemajuan yang cukup pesat. Mereka lahir hampir bersamaan dengan lahirnya televisi berwarna, handphone dan internet. Maka tidak heran jika generasi ini lebih trampil dalam memanfaatkan teknologi komunikasi.
(Foto:www.udgtv.com)
(Foto:www.udgtv.com)
Sebagian orang mengganggap generasi millenial spesial. Berbeda dengan generasi sebelumnya, khususnya  yang berkaitan dengan teknologi. Namun akan menjadi lebih spesial jika generasi ini dapat mengaplikasikan kemajuan  teknologi komunikasi dengan dunia nyata bukan hanya sebatas di dunia maya.
Beberapa ciri generasi millenial memiliki beberapa kekurangan dan keunggulan yang dapat dimanfaatkan demi kebaikan koperasi. Seperti:
Pertamagenerasi millenial generasi yang akrab dengan teknologi komunikasi, tindakan dan pola pikirnya cenderung mengarah ke hal yang instant atau langsung jadi dan serba cepat jadi atau tersaji. Ditandai dengan kehadiran SMS atau short massage serviceemail, chatting, medsos serta game online dan akrab dengan internet.
(Foto:www.limbarup.wordpress.com)
(Foto:www.limbarup.wordpress.com)
Ditangan generasi millenial, keberadaan koperasi mestinya lebih eksis dengan menjadikan koperasi sebagai warga netizen yang mampu di akses oleh siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Sehingga koperasi semakin mudah dikenal, menarik dan dipahami dengan bantuan kemampuan generasi millenial yang akrab teknologi komunikasi.
Kedua, generasi millenial memiliki sikap terbuka terhadap gagasan atau ide baru. Gagasan yang segar, yang akrab dengan situasi kondisi kekinian merupakan kelebihan generasi millenial. Tidak ada salahnya generasi ini ikut dilibatkan dalam merebornkoperasi lewat perubahan tampilan logo, merek atau cap koperasi supaya lebih kelihatan menarik dan eyecatching.
Generasi millenial perlu mendapat peran. Diminta mengeluarkan idenya untuk menata bagaimana tampilan atau lay out toko atau kantor koperasi supaya menarik, lebih akrab dan bersahabat bagi siapa saja. Ide-ide futuristik untuk kopersi dari genersi millenial sangat ditunggu .
(Foto:www.edupaint.com
(Foto:www.edupaint.com
(Foto:www.acnu.org.cu)
(Foto:www.acnu.org.cu)
Ketiga, generasi millenial generasi yang dinamis. Melibatkan generasi ini dalam memikirkan bagaimana koperasi kedepannya merupakan langkah bijak. Dinamika sosial serta kultur generasi ini begitu cepat, melibatkan mereka artinya menjadi  generasi millenial sebagai bagian dari dinamika atau perubahan koperasi.
Jangan sampai koperasi tertinggal jauh dibelakang mereka bukan karena koperasi tidak mampu mengimbangi pola pikir  generasi millenial tetapi hanya karena tidak melibatkan semangat yang dimiliki generasi millenial. Koperasi mesti memiliki sifat generasi millenial yang dinamis.
Keempat sifat generasi millenial cenderung individualis. Mereka  kerap sibuk sendiri dengan perangkat gadgetnya, seolah menjadi  sosok yang asosial. Lepas dan tercabut dari lingkungan.  Menjadi kurang peduli dengan segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Tidak sedikit yang menyebut generasi ini adalah generasi tunduk, karena tahan menunduk berjam-jam melihat layar gadget atau telpon pintar.
(Foto:Ko In)
(Foto:Ko In)
Generasi ini seolah olah hidup dalam dunianya sendiri , dunia yang maya, dunia yang bukan sesungguhnya. Untuk itu mereka perlu disadarkan kembali bahwa hidup itu adalah nyata. Lingkungan sekitarnya adalah kehidupan nyata yang memerlukan peran dan keterlibatan generasi millenial agar lingkungan sosialnya menjadi lebih baik.
Caranya dengan melibatkan mereka dalam aktivitas nyata. Koperasi memiliki peran dalam pembentukan karakter generasi millenial agar mereka menjadi generasi yang tangguh serta memiliki kepedulian terhadap masalah-masalah disekitarnya .
Koperasi membutuhkan generasi millenial. Demikian sebaliknya generasi millenial perlu diajari bagaimana hidup bersosialisasi, berinteraksi secara nyata dengan sesama manusia. Terlibat secara nyata dalam berbagai bentuk aktivitas yang dapat dirasakan secara fisik. Ada komunikasi verbal. Ada sapaan yang bersahabat dan ada kelembutan dan ada saling tatapan satu dengan lainnya sebagai bentuk penghargaan akan kehadiran.
(Foto:www.angelsfarum.wordpress.com)
(Foto:www.angelsfarum.wordpress.com)
Koperasi dapat mengisi kekurangan tersebut karena salah satu sifat koperasi adalah demokrasi. Kebersamaan merupakan suatu hal yang utama, tetap menghargai pendapat orang lain dan menjunjung kebebasan berekspresi tanpa harus mengganggu kepentingan orang lain.
Terlibat dalam koperasi artinya terlibat secara sosial mengembalikan hakekat diri manusia sebagai mahluk sosial, mahluk yang tidak dapat lepas dari kelompoknya. Sekaligus mengembalikan kesadaran generasi millenial bahwa dirinya tidak mungkin mencabut dirinya dari lingkungannya dengan asyik menyendiri bersama perangkat komunikasi modernnya.
Kelima, generasi millenial cenderung tidak sabar mengikuti proses. Semuanya ingin serba cepat dan instant. Kerap melupakan tahapan, gemar mencari jalan pintas. Padahal tidak selamanya jalan pintas dan sesuatu yang serba cepat itu baik. Tidak jarang segala sesuatu yang dikerjakan secara instant lemah dalam kualitas walau unggul dalam kuantitas.
(Foto:www.awesomebabes.webcam)
(Foto:www.awesomebabes.webcam)
Koperasi sudah lama tertinggal jauh, sedikit lambat mengikuti perkembangan budaya ilmu pengetahuan serta teknologi. Namun bukan berarti koperasi tidak ada atau mati suri. Koperasi masih eksis walau tidak sepopuler dengan aktivitas ekonomi lainnya. Koperasi tetap bertahan karena dalam dirinya ada kualitas, meletakkan dasar asas kebersamaan  dan kekeluargaan sebagai pondasi.  
Generasi millenial perlu belajar  dan terlibat dalam proses rebranding koperasi. Koperasi memang tidak populer tetapi dengan keterlibatan mereka koperasi dapat populer dan menjadi lebih berkualitas. Sebab generasi millenial memiliki beberapa kelebihan yang diperlukan koperasi. Sementara koperasi  mampu menutupi kelemahan yang ada pada generasi millenial.
Koperasi dan generasi millenial perlu bekerjasama. Tidak cukup menjadikan koperasi populer tetapi perlu membuatnya sebagai pilihan kegiatan ekonomi  nasional yang mampu mensejahterakan setiap anggotanya. Pesan itu jelas disebutkan dalam UU Koperasi no. 25 tahun 1992.
(Foto:www.kompas.com)
(Foto:www.kompas.com)
Tujuan koperasi menjadikan anggotanya atau masyarakat sejahtera. Tidak hanya secara finansial tetapi sejahtera mengarah pada meningkatnya kualitas hidup. Menjadikan anggota koperasi lebih terdidik dan berpengetahuan, memiliki sikap jujur dan mampu mandiri dalam menghadapi berbagai kesulitan jaman.
Keterlibatan generasi millenial dalam rebranding, reposisi, rebornterhadap koperasi akan menumbuhkan rasa kedekatan antara satu dengan yang lainnya. Tidak kenal maka tidak sayang kata pepatah.
Rebranding dan filososifi metamorfosis
Dari yang tidak dekat menjadi dekat. Dari yang kurang peduli menjadi peduli. Dari yang kurang sejahtera menjadi lebih sejahtera. Hal itu merupakan bentuk perubahan. Menjadi lebih baik itu artinya berubah. Kedekatan dan saling mengenal adalah kata kuncinya.
(Foto:www.iamwire.com)
(Foto:www.iamwire.com)
Sebagaimana dalam melakukan rebranding terhadap koperasi. Rebranding bukan sekedar merubah merek, logo, cap perusahaaan atau institusi. Dalam rebranding mesti ada kedekatan, merasakan adanya ruh, semangat  atau spirit dari perusahaan atau institusi yang dimaksud.
 Menurut dosen Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Dr. Sumbo Tinarbuko, brandsesungguhnya bagian dari kehidupan. Brand harus hidup dan ia harus menjadi kata kerja bukan kata benda.
Dalam pengamatan Sumbo Tinarbuko, tidak sedikit orang yang memahami brand itu sama dengan merek. Padahal merek itu sekedar nama dan nama itu memberi jarak dengan obyek yang diberi nama.
(Foto:www.bukukita.com)
(Foto:www.bukukita.com)
Manakala ada jarak dari situ tidak ada kedekatan. Branding produk memerlukan kedekatan sebagaiamana koperasi dan generasi millenial perlu membangun kedekatan agar tercipta saling keterlibatan. Sehingga memunculkan ruh, semangat  atau spirit baru dari koperasi .
Oleh karena itu konsep rebranding koperasi yang mendekatkan pada generasi millenial adalah konsep yang:
  • Melibatkan, artinya saling bertukar ide dan gagasan. Menjadikan koperasi bukan sekedar obyek kajian atau benda yang sekedar obyek garapan. Koperasi sejatinya bagian dari generasi millenial itu sendiri yang harus dikembangkan agar memberikan banyak manfaat bagi masyarakat. Bukan untuk generasi old atau generasi nowsaja. Tetapi semua generasi termasuk generasi new atau generasi future harus ikut merasakan manfaatnya.
  • Saling mengisi, setiap generasi memiliki kekurangan serta kelebihan. Manakal  terjadi transisi jaman atau alih generasi, terdapat pergeseran  nilai. Tidak sedikit  nilai lama tergantikan dengan nilai yang baru. Koperasi dan generasi millenial mesti saling mengisi guna mendapatkan ketangguhan.
  • Bernilai, rebranding dapat bertahan lama. Bukan berati tidak lekang dimakan jaman. Rebranding mesti memperhatikan maksud dan tujuan. Untuk itu koperasi mesti memperhatikan kondisi jamannya. Jaman milik generasi millenial berciri dinamis, cepat dan populis tanpa harus meninggalkan ciri nilai yang universal.
  • Sadar proses, siapapun yang terlibat dalam rebrandingmesti menyadari perlunya proses. Apakah itu generasi millenial atau koperasi itu sendiri. Mengembalikan atau menaikkan citra serta imej koperasi membutuhkan waktu serta proses, sebagaimana ulat membutuhkan waktu dan proses saat akan berubah menjadi kupu-kupu.
Bertapa, puasa dengan menjadi kepompong bagi ulat bukan akhir dari hidupnya tetapi awal sebuah proses untuk menjalani hidup baru. Metamorfosa atau perubahan adalah esensi hidup. Ada proses yang harus dijalani. Mau tidak mau, harus.
Keluar dari cangkang kepompong dengan cara menggigit atau memakan sedikit demi sedikit sebagian cangkang. Bagian dari proses lain yang harus dijalani ulat untuk menjadi kupu-kupu agar memiliki sayap yang indah.
(Foto:www.hipwee.com)
(Foto:www.hipwee.com)
Namun bagi manusia yang melihat hal itu mungkin terlalu lama dan muncul rasa iba. Ingin membantu ulat agar segera cepat keluar dari kepompong dan menjadi kupu-kupu agar dapat segera terbang bebas dengan sayapnya yang indah
Manusia memiliki keinginan serba cepat, mencari mudahnya,  mendapat hasil dengan menempuh jalan pintas. Termasuk dengan "menolong" proses kelahiran kupu-kupu dari cangkang kepompongnya.
Namun setelah "menolong" kupu-kupu tidak dapat terbang karena  badannya masih terlalu gendut dan sayapnya belum terbentuk sempurna. Kecil, rapuh, tidak warna-warni. Hingga akhirnya mati.
Perubahan atau rebranding terhadap simbol atau logo perusahaan dan lembaga sarat dengan nilai filosofi tentang metamorfosis. Ada waktu, ada proses bagi ulat menjadi kupu-kupu. Dalam setiap waktu, ada perubahan.
Koperasi mesti menjalani dinamika yang mengarah pada kematangan brand supaya proses rebranding menjadikan koperasi lebih berwarna-warni dengan aneka kegiatan usahanya. Koperasi bukan semata-mata brand tetapi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.
(Foto:www.ilmupengetahuan.org)
(Foto:www.ilmupengetahuan.org)
(Foto:Ko In)
(Foto:Ko In)
Rebranding koperasi di era millenial bukan akhir perubahan namun awal dari perubahan, semuanya terus mengalir, mengarah dan menjadi  koperasi yang lebih baik. Agar dapat memajukan kesejahteraan anggota dan masyarakat dari waktu ke waktu. Serta membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur.
Diolah dari berbagai sumber. 
Ttg koperasi bisa di baca di www.kompasiana.com/koin1903

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Itsmy blog

 It's my mine