Jumat, 22 Maret 2019

From Bantul to Malaysia, Singapur, Jepang and Jamaica

Sebagian karya warga Bantul (Foto:Ko In)


Bantul gudangnya orang-orang kreatif, dari tangan mereka barang-barang yang awalnya nampak biasa saja dengan kemampuan, kelebihan serta keuletan yang dimiliki. Berubah menjadi barang bernilai seni tinggi, yang menarik minat orang dari berbagai belahan dunia.
                Nama lengkapnya Sumilah tapi biasa dipanggil Mila, tinggal di Sendangsari, Pajangan Bantul. Perempuan ini gigih memasarkan produk batik kayu dari satu tempat pameran ke pameran lainnya. Bahkan media sosial akrab digeluti untuk mengenalkan karya hasil dari sanggar Rama Shinta yang dikelolanya.
                Ada kotak kayu bermotif batik yang fungsinya untuk menyimpan teh, gula dan teman-temannya. Bahkan dapat difungsikan sebagai tempat perhiasan. Saat ditemui di acara Gelar Produk Craft dan Fashion di Piramid Jl. Parangtritis, Bantul Yogya (22/3/2019) yang diselenggarakan Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta bersama PLUT-KUMKM DI Yogyakarta .
               Mila antusias menceritakan tentang item-item produknya dari yang berukuran kecil sampai ukuran sedang. Seperti gantungan kunci, tempat perhiasan dan nampan.
Perlengkapan rumahtangga dari kayu (Foto: Ko In) 

                Usaha kerajinan berbahan dasar kayu sudah digeluti cukup lama. Kayu-kayunya pun khusus. Kayu yang harus berwarna putih dan tidak bergetah seperti kayu kepil, sengon, babelina, akasia dan kayu jati.
                Di Bantul untuk mencari kayu-kayu jenis itu mulai sulit sehingga  dengan karyawannya tidak jarang dirinya berburu kayu ke tetangga kabupaten yang ada di Yogyakarta, Kuloprogo. Bahkan tidak jarang harus ke Wonosobo, Muntilan dan Klaten yang berada di Jawa Tengah.
                Dari desa Krebet, Sendangsari, Pajangan, Bantul produk kerajinan kayunya memiliki minat tersendiri. Walaupun produk kerajinan kayu ini tergolong kerajinan yang peminatnya khusus. Tidak semua orang gemar dengan kerajinan berbahan kayu.

                Mila, main-main dengan kayu sampai Malaysia
Namun demikian Mila mengaku memiliki langganan yang rutin memberinya order untuk membuat aneka kerajinan tangan yang terbuat dari kayu. Cukup lama dirinya bekerja sama dengan pengusaha dari Malaysia dan Singapur yang siap memasarka produk kerajinannya. Ada piring, tempat tissu, nampan dan yang lainnya. Tidak tanggung-tanggung sudah lebih dari lima tahun kerjasama dijalaninya.
(sanggar-rama-sinta.blogspot.com)

Mila memang marketing yang gigih. Kayu seolah jadi mainan kesehariannya. Nampak dari kesigapannya menjelaskan setiap produk yang dipamerkan. Dari bibirnya lancar menjelaskan aneka macam produk kerajinannya. Tidak pandang bulu siapa yang datang ke stand pamerannya. Mila dengan antusias menceritakan fungsi, manfaat serta keunikannya. Semuanya terbuat dari kayu, selalu diucapkan dengan tegas dan mantap.
(Foto: Pemkab Bantul)

Bantul memang wilayah yang unik. Warganya pandai membuat sesuatu barang dengan kreasi yang unik dan menarik. Salah satunya Akhyani. Tinggal di Juron, Pendowoharjo, Sewon Bantul, Alhyani memanfaatkan tempurung atau bathok kelapa yang menurut orang lain dianggap tidak ada manfaatnya.
Namun di mata Akhyani yang memiliki brand Yanti Bathok Craft, sisa bathok kelapa merupakan bahan baku yang sangat bermanfaat untuk dijadikan barang lain yang memiliki nilai seni tinggi dan menarik bagi banyak orang.
Tidak heran jika beberapa warga Malaysia dan Belanda tertarik dengan hasil karyanya. Bahkan saat pameran di Belanda Akhyani menceritakan bagaimana orang Belanda sangat menghargai hasil kerajinan tangannya. Karena dari sisa-sisa bathok kelapa yang dianggap tidak berguna  dapat di buat sebuah karya yang memiliki nilai keindahan tersendiri.
Ahyani dengan karyanya (Foto:Ko In)

“Mereka sangat menghargai karya seni khususnya yang dibuat dengan tangan. Maka tidak heran saat saya jual dengan harga delapan kali lipat dari harga biasanya. Mereka langsung membayar tanpa menawar,” cerita Akhyani di sela-sela kesibukanya melayani pengunjung yang antusias mengamat-amati  karyanya.

Bathok bekas “dibuang” ke Jamaica
Beberapa produk seperti tas yang berbentuk persegi empat dan bulat dipajang dengan manis sehingga menyedot pengunjung untuk mampir ke standnya yang berlangsung di Piramid Jl. Paris. Bersama dengan barang lain seperti teko, cangkir dan sabuk.
Pemilik sanggar atau galeri Yanti Bathok Craft ini menjelaskan jika sampai sekarang ada buyer yang sangat berminat dengan produknya sehingga rutin dikirim ke Jamaica. Siapa sangka dari barang yang sering dianggap sudah tidak berguna, dibuang ke tempat sampah. Di tangan Akhyani ternyata “dibuang” sampai Jamaica dalam rupa dan bentuk yang berestetika. 
Alat minum dari bathok (Foto: Ko In)

Kelebihan tempurung atau batok yang tidak berpori menjadi jaminan kualitas produk kerajinan yang menggunakan nama istrinya, Yanti. Pasangan suami istri yang berbagi tugas dalam usaha memajukan hasil kerajinan dari pohon kelapa.
Istrinya, Yanti bertugas sebagai marketing atau pemasaran sementara dirinya, Akhyani memikirkan inovasi produk dan membuat produk yang unik. Karena keunikan merupakan salah satu daya tarik tersendiri jelasnya.
Hasil kerajinan tempurung kelapa Akhyani  terkenal awet karena bahan dasar tempurung yang tidak memiliki pori-pori sehingga aman dari ancaman ngengat atau rayap yang dapat merusak produknya.
Akhyani dan istrinya (Foto:Ko In)

Dalam kesempatan tersebut Akhyani bercerita bagaimana dirinya kaget dengan salah satu buyernya asli Palembang yang khusus datang ke Jogja hanya untuk memotong cangklongan tas yang terbuat dari bathok karena terlalu panjang.    
Akhyani, manakala melihat salah satu produknya yang masih bertahan lebih dari delapan tahun dan masih digunakan untuk acara-acara resmi. Bedanya hanya nampak kusam. Setelah dibersihkan dan dipotong cangklongannya tas tersebut nampak kelihatan baru lagi.
Yani demikian orang biasa memanggilnya, menyarankan untuk membersihkan dengan kain yang sudah dibasahi dengan sedikit minyak goreng. Sebagai cara praktis untuk membersihkan dari kotoran dan biar nampak cerah kembali.
Ketika di singgung bagaimana dengan pemasaran produknya ke Jepang, Yani menjawab sulit karena orang Jepang suka akan sesuatu yang nampak rapi dan praktis. Sementara bathok kelapa ukurannya besar dan tidak praktis karena tidak dapat dibuat lurus.
Tas karya Akhyani (Foto:Ko In)

Untuk produk seperti tas, dompet, sabuk dapat lurus karena dibuat dalam ukuran kecil seukuran benik atau mata baju. Untuk membuatnya perlu dilakukan dua kali dengan alat khusus yang berbeda pula. Dan alat atau mesin tersebut tidak dibuat pabrik sehingga Yani harus merekayasa sendiri.
Walau membuat mesin pembuat benik-benik dari  tempurung kelapa merupakan rancangan dan buatannya sendiri. Yani ternyata tidak pelit dalam berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman.
Dari kiprahnya bersentuhan dengan bathok, Yani kerap diundang menjadi nara sumber atau menjadi mentor dalam berbagai acara pelatihan kerajinan tangan seperti yang diselenggarakan di Papua dan Makasar. Tempat yang melimpah akan tempurung kelapa.
Jika Akhyani merasa kesulitan menembus pasar Jepang. Maka berbeda dengan Sugeng Prayogo pengrajin wayang dari bahan kulit hewan yang melihat potensi pasar khususnya orang Jepang sangat menggemari  kerajinan motif wayang dari bahan kulit hewan.
Produk Sugeng yang didominasi tokoh wayang sudah ekspor ke Jepang. “Mereka suka wayang, mungkin karena motif atau mungkin mereka mengerti filosofinya,” jelas Sugeng yang menamai sanggarnya dengan nama Wahyu Art. Diambil dari nama anak sulungnya. Yang konon membawa keberuntungan atau hoki, katanya sambil bercanda.
Wayangnya sudah tinggal di Jepang
Dalam perbicangan saya dengan Sugeng di standnya, Sugeng nampak memiliki optimisme jika produk kerajinannya masih diminati walau generasi milenial kurang tertarik dengan wayang yang ditampilkan dalam aneka bentuk media. Tidak hanya kulit.
Wayang kulit (Foto: Ko In)

“Namun saya optimis wayang akan tetap menarik apalagi Unesco sudah menjadikan wayang sebagai warisan budaya asli Indonesia dan menjadi mahakarya dunia.” Jelasnya mantap sambil sesekali menunjuk dan memperlihatkan beberapa tokoh wayang ke saya.
Kalau bukan kita siapa lagi yang melestarikan dan menjaganya, tambahnya singkat. Namun benar-benar “Jleb...” istilah milenial.
Dari sanggar kerajinan tatah kulit Wahyu Art, yang berada di desa Kowen, Timbulharjo Sewon, Bantul. Sebagian karya wayang kulit Sugeng sudah menetap atau tinggal di Jepang. Wayang-wayang karyanya mempunyai rumah baru di Jepang menikmati dinginnya udara Jepang .
Sekat buku (Foto:Ko In)

Dengan kecintaanya pada budaya asli Indonesia, Sugeng mendedikasikan dirinya untuk tetap bertahan dengan kerajinan kulit atau tatah kulit khsus wayang.  Kecintaannya pada wayang tidak lepas dari keluarga besarnya yang memang pada dasarnya adalah pencinta wayang tinggi. 
Dengan kreatiftas dan ketelatenannya, Sugeng berusaha terus mempopulerkan wayang ke generasi muda. Salah satu cara dengan membuat penyekat buku yang terbuat dari kulit dengan tokoh-tokoh wayang.
Satu hal yang perlu mendapat apresiasi, agar generasi  milenial tidak lupa jika bangsa ini memiliki mahakarya. Maka tidak heran jika dari Bantul karya-karyanya mendunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Itsmy blog

 It's my mine