Jumat, 28 Desember 2018

Milenial #CerdasDenganUangmu, Ayo Investasi Emas

(Foto:moneysmart.id)

Generasi milenial alami masa keemasan didukung kemajuan pengetahuan dan teknologi komunikasi yang semakin canggih dan keren. Serta memiliki kesempatan untuk menggunakan secara tepat dimasa produktifnya.
Sehingga menjadikannya bermanfaat dan berguna bagi banyak orang serta kehidupan, sebelum kesempatan lewat sesuai perjalanan waktu. Karena kesempatan tidak pernah datang untuk kedua kalinya.
Generasi milenial itu generasi emas yang memiliki kesempatan terbuka menggenggam dunia. Menentukan bagaimana warna kehidupan ini nantinya. Oleh karena itu harus memiliki  kemampuan melihat masa kini sebagai momentum yang tepat untuk menjadi masa depan lebih baik.
Semua itu memungkinkan jika sadar dan sabar proses. Tidak menjadikan kecukupan finansial sebagai satu-satunya tujuan, hanya mengarah pada terbentuknya generasi instant. Yang dapat menyeretnya pada kemiskinan kepedulian.
(Foto:moneysmart.id)

Generasi 80an sampai kahir 90an, khususnya mahasiswa kala itu melihat kantor pegadaian sebagai solusi memenutupi kebutuhan sehari-hari manakala kiriman orang tua seret. Generasi yang cukup kreatif mengatasi masalah tanpa harus menimbulkan masalah baru.
Pegadaian tempat solutif yang mengantarkan mesin ketik, radio tape compo, komputer, laptop dan handphone untuk “sekolah” atau digadaikan.  Sebagian ada yang malu-malu, duduk bersama ibu-ibu atau simbah-simbah yang juga menggadaikan barang berharganya seperti  kalung emas, anting atau cincin.
Seiring perjalanan waktu, kantor pegadaian kini berubah. Mengembangkan diri, menyadari serta tanggap kebutuhan masyarakat. Kantor Pegadaian bukan hanya tempat untuk memperoleh dana segar untuk kebutuhan sehari-hari atau sebagai modal usaha. Tetapi juga sebagai tempat berinvestasi secara aman.

         Pegadaian tempat investasi
Kini sulit membedakan seseorang yang datang ke kantor pegadaian, sebetulnya  sedang kesulitan dana, kelebihan dana atau menjadikannya sebagai tempat investasi. Khususnya investasi emas.
Jika ada salah satu dari generasi milenial, mahasiswa datang ke pegadian jangan buru-buru memberi cap tebal pada dirinya sedang butuh uang bro. Bisa jadi dia sedang berhemat secara smart dengan uangnya. Menyisihkan uangnya untuk membeli emas batangan dengan cara mengangsur  lewat rekening tabungan emas yang dia punya.
Ini artinya dia milenial yang #CerdasDenganUangmu.
Saat ini cara memiliki emas murni sebagai investasi dalam bentuk batangan menjadi lebih mudah di Pegadaian. Investasi emas bukan lagi miliki generasi old dan pengusaha tetapi juga miliki generasi now . Emas salah satu bentuk investasi yang cukup aman dari fluktuasi harga dan perubahan nilai mata tukar uang serta kondisi perekonomian global atau regional.
(Foto:moneysmart.id)

Beberapa alasan emas menarik sebagai investasi:
·         Pertama, mudah mendapatkannya. Kantor Pegadaian menyediakan emas sebagai sarana investasi sekaligus sebagai tempat aman dalam masalah penyimpanan.
·         Kedua, sewa tempat atau biaya penyimpanan tergolong cukup murah. Hanya Rp 30 ribu selama satu tahun.
·         Ketiga,  kantor Pegadaian memberi kesempatan kepada nasabahnya untuk membeli emas murni dengan kelipatan 0,01 gram. Jika harga emas Rp 700 ribu pergramnya. Maka milenial dapat membelinya dengan harga Rp 7 ribu untuk 0,01 gramnya. Jika minimal menabung Rp 50 ribu dapat dihitung kira-kira berapa gram emas yang sudah dimiliki milenial.
·         Keempat, memiliki emas artinya bukan hanya sebagai investasi tetapi dapat dijadikan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan mendesak. Emas yang dimiliki dapat digadaikan, jangan dijual sebagai bentuk pembelajaran diri disiplin berinvestasi.
·         Kelima, prosedur gadai sederhana dan mendapatkan dana cukup mudah serta cepat. Apalagi jika sudah menjadi nasabah pegadaian dengan tabungan emasnya. Biaya administrasi dan pajaknya cukup ringan. Pajaknya hanya 0,45 persen.

Pelajari investasi emas
Investasi emas lewat kantor Pegadaian memiliki banyak manfaat serta keuntungan, maka sudah waktunya milenial melakukan aksi atau eksekusi investasi. Awali dengan membuka rekening tabungan emas. Kemudian mengusahakan setiap bulan membeli emas dengan cara menabung.
Kegiatan investasi tidak jauh dari aktivitas mengamati serta mencermati kondisi perekonomian global, nasional atau regional. Untuk itu mesti cermat dengan berbagai perubahan yang terjadi, bersedia belajar terus menerus terkait investasi.
Walau investasi emas yang menjadi salah satu investasi dengan risiko rendah tetapi bukan berarti tanpa risiko. Pelajari segala hal yang terkait dengan emas.
(Foto:klikhost.com)

Tidak ada salahnya, milenial menjadikan investasi emas bukan sebagi satu-satunya investasi. Milenial sedang mengalami fase emas. Fase produktif yang mesti menyikapi dengan bijak. 
Ada pepatah yang mengatakan jangan menaruh semua telur dalam kranjang yang sama. Guna menghindari kerugian besar, sekaligus sebagai cara untuk membuka peluang lain dalam berinvestasi. Namun sekali lagi perhatikan faktor keamanan, risiko serta kemampuan finansial.   
Mengumpulkan modal usaha dengan menabung. Emas salah satu pilihan yang cukup menggiurkan karena nilai tukuarnya tergolong stabil dibandingkan dengan mata uang manapun. Menabung mernjadi kata kunci jalan menuju sukses sebagaimana ditunjukkan oleh Cythia Tan, desainer  kondang yang sudah menjadi langganan selebritis.
Sejak kuliah Cynthia Tan terbiasa menabung. Hasilnya dapat menjadi modal.  menabung untuk membeli mesin jahit. Dari satu mesin jahit dipakai membuat baju. Dengan jasa order dan iklan dari mulut ke mulut dilakukan sejak mahasiswa. Usahanya berkembang sampai saat ini. 
(Foto:moneysmart.id)

Generasi milenial memiliki kesempatan terbuka untuk berinvestasi secara profit atau non profit. Jangan buru-buru kesuksesan diukur dari hal yang profit dan langsung menghasilkan. Investasi non profit dengan membangun jejaring pertemanan lewat beragai aktivitas di masyarakat merupakan salah satu investasi tersendiri di kemudian hari.
Pertemanan dan persahabatan itu sebenarnya  “emas”. Nilainya bisa jadi melebihi nilai emas itu sendiri. Keuntungan pertemanan tidak cukup dinilai secara finansial atau material. Orang-orang bijak sudah sering memberi wejangan. Tinggal bagaimana milenial yang sedang berada di fase keemasan pandai memanfaatkan dan menggunakannya. Networking istilah kerennya.
(Foto:moneysmart.id)

Emas akan tetap jadi emas jika tetap dibiarkan begitu saja. Namun keberadaan emas akan lebih bermanfaat serta berguna tergantung orang yang ada di belakangnya, Man behind the gun, eh golden kata pepatah .
Emas menjadi tidak ada artinya jika dibiarkan tetap jadi emas. Menjadi bermakna jika ada aktivitas terkait dengannya. Maka teori atau pengetahuan yang dimiliki mesti diaplikasikan atau dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari khususnya di dunia investasi dan bisnis.
Pengalaman adalah guru paling baik. Pengalaman akan menutupi setiap kekurangan. Sebagaimana salah satu pesan Merry Riana  wanita sejuta dolar, yang menyebutkan teori memang penting namun pengalaman bakal menyempurnakan, dapat di baca www.moneysmart.id
Buat meraih kesuksesan Merry Riana, yang berhasil meraih sejuta dollar sebelum usia 26 tahun membagi delapan kiat meraih sukses.  Semua tidak lepas dari perilaku generasi milenial, yang menampakkan kesahajaan, dinamis serta memiliki ide-ide kreatif yang seolah-olah tidak pernah habis.
(Foto:moneysmart.id)

         Untuk itu, milenial tidak hanya sebagai emas tetapi harus "menjadi emas". Kilauannya menarik banyak orang karena bentuknya yang indah. Memiliki manfaat berlipat untuk banyak orang. Tidak hanya mempercantik penampilan perempuan dengan perhiasan kalung, cincin, gelang dan anting emas. 

Namun kokoh dan bermakna bagi kehidupan. Emas memiliki daya tahan lebih stabil dibandingkan nilai mata uang. Demikian pula milenial mesti tahan terhadap berbagai gempuran tantangan dan tidak mudah patah arang oleh rintangan. 
Karena milenial sejatinya adalah emas itu sendiri. Jadikan dirimu sebagai milenial yang #CerdasDenganUangmu.



               

Sabtu, 22 Desember 2018

Layanan Penuh Kasih dari Faskes dan Si Om

Layanan Penuh Kepedulian dari Faskes dan Si Om
Faskes Pertama (Foto:Ko In)
Masuk ke Pusat Kesehatan Masyarakat atau Puskesmas, disambut tatapan dan wajah-wajah yang lesu. Sebagian diantara mereka duduk bersandar dengan malas seolah hilang semangat.  Beberapa ada yang menyandarkan kepalanya ke bahu orang di sebelahnya.
Mereka menunggu giliran untuk diperiksa karena sakit. Belum selesai saya melihat sekeliling ruangan, terdengar sapaan ramah "Selamat siang," dari satpam sambil menanyakan dan mengarahkan untuk mengambil nomer antrean.
 "Sudah daftar on line belum ?" tanya satpam, sambil mengarahkan untuk mengambil nomer antrean. Karena saya belum tahu jika pendaftaran pasien dapat dilakukan secara on line. Di Puskesmas Ngaglik 2 disebut dengan Antrean Pasien Mandiri  atau Anjungan Pendaftaran Mandiri  (APM) sebagaimana yang sudah berjalan di beberapa rumah sakit besar. 
Mesin antrian pasien mandiri (Foto: Ko In)
Mesin antrian pasien mandiri (Foto: Ko In)
Saya mengetahui pendaftaran di Puskesmas, dapat dilakukan secara on line. Saat mengantar keponakan ke Fasilitas Kesehatan (Faskes) tingkat pertama sesuai yang tertera di Kartu Indonesia Sehatnya (KIS).
Dia selalu manja jika saya berkunjung ke rumahnya. Ke Puskesmas harus dengan saya. Setelah mengambil nomer antrean dan menyerahkan KIS kami menunggu panggilan. Duduk di kursi yang terbuat dari besi  yang tertata rapi. Kursi terasa dingin, sebagaimana dinginnya tatapan pasien yang datang ke Puskesmas. 
Ada yang tiduran menunggu giliran diperiksa. Bantalnya paha sanak keluarga atau tangannya sendiri. Demikian pula dengan keponakan saya. Bawaannya sudah manja dan menjadi lebih rewel dibanding biasanya. 
Suhu badannya tinggi, mengeluh dingin saat duduk di kursi yang terbuat dari besi. Orang sakit memang sulit beradaptasi dengan perbedaan dan perubahan suhu suatu benda atau cuaca. 
Kartu Indonesia Sehat (Foto: Ko In)
Kartu Indonesia Sehat (Foto: Ko In)
Layanan Cepat dan kendala APM
Kami duduk bersama pasien atau keluarga pasien lainnya,  yang lebih dahulu datang. Walau sebagian ruangan dipenuhi orang sakit namun Puskesmas Ngaglik 2, salah satu dari sekian banyak fasilitas kesehatan (Faskes) tingkat pertama. Nampak terang dan bersih. Jendela pintu tertata sedemikian rupa sehingga memungkinkan udara bersikulasi dengan baik. 
Itu membantu menghalau bau atau aroma kurang sedap dari orang sakit. Mungkin mereka tidak mandi beberapa hari atau karena bau badannya bercampur dengan bau dari minyak angin atau minyak gosok yang dibalur ke tubuhnya. Belum lagi bau jaket yang mungkin sudah berminggu-minggu belum dicuci, langsung dipakai saat ke Puskesmas.
 Sesekali keponakan menyandarkan kepalanya di bahu saya. Seperti  tidak tahan menahan rasa pusing yang membuat kepalanya terasa berat. Sambil memeluknya supaya tidak merasa kedinginan, saya mengarahkan pandangan mata ke seluruh ruangan Puskesmas. Kesannya bersih, dindingnya di dominasi warna hijau muda.
Faskes tingkat pertama di puskesmas (foto: Ko In)
Faskes tingkat pertama di puskesmas (foto: Ko In)
Yang terlintas pertama di kepala, andai sudah mendaftar secara online lewat APM (Antrean Pasien Mandiri) mungkin tidak harus menunggu sedikit lebih lama. Menurut salah satu petugas di Puskesmas Ngaglik 2 masyarakat lebih senang datang langsung. Keberadaan APM belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat sekitar kecamatan Ngaglik dan Pakem. 
Namun demikian saya melihat pelayanan berjalan cepat. Panggilan nomor antrean pasien untuk mendapatkan layanan kesehatan seolah tidak pernah berhenti.
Kedua, kemungkinan masyarakat pedesaan khususnya golongan paruh baya dan usia lanjut tidak terbiasa dengan aplikasi kesehatan yang ada di hp android. Tidak dipungkiri penggunaan smartphone baru sebatas chatting,  kirim pesan atau gambar.
(Sumber :Bangka Post- tribun news.com)
(Sumber :Bangka Post- tribun news.com)
Ketiga, sinyal atau koneksi internet di daerah pedesaan terkadang kurang lancar. Apalagi di saat musim penghujan disertai angin, yang mempengaruhi kualitas koneksi. Kerap membuat jengkel pengguna internet. Akibatnya tidak sedikit masyarakat di desa memilih sistem antrean manual.
Ini kurang menguntungkan upaya mengurangi lamanya pelayanan di Faskes tingkat satu diantaranya Puskesmas. Beberapa rumah sakit di kota besar, penggunaan APM (Antrean Pasien Mandiri), terbukti memangkas waktu antrean pasien secara signifikan.  
Keempat, sistem APM (Anjungan Pasien Mandiri atau Antrian Pasien Mandiri) belum lama dikenalkan sehingga masih membutuhkan waktu untuk mesosialisasikannya. 
Walau menunggu, antrean tidak lama. Mungkin hal ini disikapi beda oleh pasien. Dalam situasi dan suasana sebaik apapun tetap tidak nyaman karena yang ada hanya keinginan istirahat atau tidur.
Satu persatu pasien bergantian keluar masuk dari ruang bagian poli umum. Yang sudah diperiksa selanjutnya menuju ke bagian obat. Menyerahkan secarik kertas seperti resep, kemudian duduk menunggu giliran panggilan mengambil obat. 
Kesabaran, Keramahan dan Profesionalisme
Tidak lama berselang, panggilan nomer tertentu di bagian obat dilakukan berulang. Pemilik nomor  tidak ada yang mendatangi loket obat. Panggilan selanjutnya menggunakan nama pasien, baru ada seseorang yang mendekat ke bagian obat.  Hal itu bisa terjadi karena pasien atau keluarga pasien kadang lupa dengan kartu nomer antriannya. 
Entah terjatuh atau lupa meletakkan sehingga tidak ingat nomer antreannya. Kesabaran dan keramahan petugas Puskesmas di Faskes tingkat pertama memang harus ekstra, saat berhadapan dengan orang sakit atau keluarga pasien yang sensifitasnya menjadi  lebih tinggi. Maklum mereka cemas dan khawatir terkait kesehatan anggota keluarga yang sedang sakit. 
Semakin siang semakin sepi (Foto: Ko In)
Semakin siang semakin sepi (Foto: Ko In)
Keponakan saya memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS) dari golongan Penerima Bantuan Iuran (PBI) dari pemerintah karena keluarganya tergolong kurang mampu. Iuran perbulan ditanggung oleh pemerintah. Tetapi dalam menerima fasilitas layanan kesehatan tidak ada bedanya dengan yang bukan penerima bantuan.
Nomer antrean periksa keponakan dipanggil dan tertera di layar teks berjalan atau running text, dengan warna lampu merah. Saya antar dia masuk, di dalam sudah ada dua orang yang menunggu untuk diperiksa dokter.
Petugas medis  bertanya keluhan yang dialami keponakan sambil mengukur tekanan darah atau tensinya. Pasien sebelumnya sudah keluar dari ruang periksa dokter, keponakan dipersilahkan masuk. Tapi tangannya tidak lepas dari tangan saya, tanda dia minta ditemani omnya.
KIS keponakan (Foto : Ko In)
KIS keponakan (Foto : Ko In)
 Dokter yang memeriksa bertindak profesional. Melayani pasiennya sebagaimana di rumah sakit. Bahkan saat menulis resep, dokter menyebutkan nama jenis dan fungsinya obat yang diberikan untuk apa dan kapan mengonsumsinya. Demikian juga di bagian obat, petugas menjelaskan pemakaiannya  bahkan mengulangi jika kita nampak ragu atau tidak mengerti cara pakainya. 
Sambil mengembalikan KIS (Kartu Indonesia Sehat)milik keponakan, petugas mengucapkan "Semoga cepat sembuh." Selesai. 
Obat dari Faskes, Puskesmas Ngaglik 2 (foto: Ko In)
Obat dari Faskes, Puskesmas Ngaglik 2 (foto: Ko In)
Tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun untuk periksa dan mendapat obat di Faskes tingkat pertama, seperti Puskesmas atau klinik lain yang bekerjasama dengan BPJS.  Dan tidak membutuhkan waktu yang lama.
Kelebihan lain jika terpaksa harus periksa atau berobat di Faskes yang tidak sesui dengan Faskes yang tertera di kartu BPJS Kesehatannya. Atau belum memiliki kartu BPJS kesehatan. Pasien atau masyarakat dapat mengetahui biaya konsultasi dan tindakan medis yang didapat. 
Puskesmas Ngaglik 2 masuk wilayah Kabupaten Sleman. Daftar atau rincian biaya pelayanan dan tindakan medis dipigura dan digantung di dinding. Contoh jika warga kabupaten  Sleman belum memiliki kartu BPJS Kesehatan atau memiliki tetapi Faskes tingkat satu di kartu berbeda.Maka dikenai biaya poli umum Rp 5000. Untuk yang dari luar kabupaten Sleman Rp 17.000.
Tindakan medis seperti jahit luka, untuk warga Sleman yang belum memiliki kartu BPJS Kesehatan atau sudah memiliki tetapi tujuan Faskesnya berbeda. Biaya, satu sampai empat jahitan sebesar Rp 37.500. Untuk pasien di luar kabupaten Sleman Rp 49.000 
Hari sudah siang, jumlah pengunjung tidak banyak. Jangan ditanya jika Senin, pengunjung lebih banyak dari hari biasa. Tidak hanya Puskesmas tetapi juga  rumah sakit atau kantor-kantor layanan publik lainnya. Biasa usai liburan. 
Kepastian Layanan Rujukan
Menurut petugas pendaftaran, rata-rata terdaftar  75 pasien setiap harinya. Puskesmas Ngaglik 2 telah menerapkan kepastian layanan rujukan secara on line. Jika ada pasien yang harus mendapat rujukan ke rumah sakit. Sebagai Faskes tingkat satu, akan melihat daftar rumah sakit dan dokter yang tersedia sesuai dengan sakit pasien dengan tujuan agar segera tertangani, kemudian pasien langsung dikirim dengan ambulans.
Ambulans siap antar pasien rujukan (foto: Ko In)
Ambulans siap antar pasien rujukan (foto: Ko In)
Perlu diakui, kerap terjadi salah pengertian antara petugas Puskesmas dan keluarga pasien. Pertanyaan yang muncul mengapa mendapat rumah sakit yang jauh dari rumah, padahal dekat rumah pasien ada rumah sakit. Barangkali pasien atau keluarganya kurang memahami masalah ini:
  • Pertama, rumah sakit di dekat rumah pasien mungkin tidak memiliki fasilitas rawat inap yang dibutuhkan pasien.
  • Kedua, rumah sakit di dekat rumah pasien memiliki fasilitas yang dimaksud tetapi ruangannya sudah penuh.
  • Ketiga, tenaga medisnya dalam hal ini jumlah dokter  di rumh sakit dekat rumah pasien terbatas.
  • Keempat, walau ruangan dan tenaga medis tersedia namun klasifikasi layanan akomodasi kesehatan tidak sama dengan pilihan di awal pendaftaran. Jika pilihan klas dua namun yang tersedia di rumah sakit dekat rumah hanya ada klas satu. Maka secara on line akan diarahkan ke rumah sakit lain, sesuai pilihan klas pilihan di data pendaftaran awal.
Walau terdapat perbedaan layanan akomodasi bagi pemegang kartu yang dikeluarkan BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial)  sesuai dengan pilihan besaran iuran perbulannya. Termasuk PBI dan non PBI (Penerima Bantuan Iuran).
Namun semua pemegang kartu jaminan kesehatan diperlakukan sama dalam menerima manfaat pelayanan kesehatan. Sebagaimana tertulis di  buku sosialisasi Jaminan Kesehatan Nasional dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional.
Guna mendukung kepastian layanan rujukan, dari faskes tingkat satu atau Puskesmas ke rumah sakit tersedia ambulans. Diperuntukan pasien yang memerlukan dengan kondisi tertentu yang ditetapkan oleh BPJS Kesehatan. Kecuali dalam keadaan kegawat daruratan medis.
Kursi roda dan tongkat penyangga siap di depan Faskes tingkat pertama (Foto: Ko In)
Kursi roda dan tongkat penyangga siap di depan Faskes tingkat pertama (Foto: Ko In)
Layanan kesehatan tingkat satu semakin baik, mengutamakan kepentingan masyarakat. Tersedia kursi roda dan alat bantu pasien seperti walking stick dengan kaki empat di depan pintu masuk Puskesmas Ngaglik 2. Termasuk mobil ambulans. 
Tidak sampai satu jam kami berada di Puskesmas. Saya dan keponakan kemudian pulang. Eh, belum. Saya, sebagai om harus memenuhi janji mentraktir keponakan ke warung sop atau soto kesukaannya.
Melayani itu dapat dilakukan dengan berbagai cara. Dari menemani berobat, makan soto bareng. Atau memberikan pelayanan  medis secara profesional dan sepenuh hati untuk anak-anak negeri  karena melayani itu wujud kepedulian, cinta dan kasih.
Kepedulian ini ada juga di www.kompasiana.com/koin1903www.kompasiana.com/koin1903

Sabtu, 15 Desember 2018

Terselamatkan oleh Anggur Merah

(Foto: Ko In)

Waktu itu saya berada di gedung perpustakaan Grhatama Pustaka Yogya untuk mengembalikan buku, sekalian istirahat barang sejenak setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan mengunjungi beberapa tempat.

Setelah meminjam kunci loker dan saat memasuki ruang penyimpanan tas. Tiba-tiba saya merasakan sesuatu yang tidak seperti biasanya pada di tubuh. Melihat sekeliling terasa aneh. Jalan seolah tidak menapak tanah,  berasa seperti melayang.

Namun kondisi saya sadar dapat melihat kaki menepel di lantai. Buru-buru saya mencari kursi terdekat. Minum air putih, saya terbiasa membawa air putih kemanapun pergi. Saya melihat sekeliling nampak lain dari biasanya, padahal saya kerap mengunjungi perpustakaan ini paling tidak satu minggu sekali.

Perasaan aneh
Waktu itu saya tidak merasa pusing, tangan dan kaki tidak kesemutan. Dalam hati, saya merasa takut dengan kondisi tubuh saya. Saya mencoba memijat-mijat jari, telapak tangan dan lengan. Sesekali saya cubit kulit saya. Bukan apa-apa, hanya untuk menjaga agar saya tetap sadar dan mungkin naluri untuk survive yang muncul dari bawah sadar saat mengalami  kejadian atau peristiwa tidak diinginkan.
(Foto:Ko In)

Masih dalam posisi duduk sambil bersandar dan tas saya  letakkan di samping kursi. Saya teringat hasil pemeriksaan asam urat, gula darah serta koleseterol  beberapa hari lalu. Untuk kadar gula darah dan asam urat semuanya normal. Kolesterol yang tinggi. Tidak lagi cukup tinggi tapi tinggi.

Tenaga medis yang memeriksa kaget dengan kadar kolesterol saya. Bahkan sampai bertanya, “Tidak pusing...?”. Saya menjawab apa adanya dengan sedikit bingung dan bertanya-tanya dalam hati, “Tidak.”

Spontan saya bertanya berapa batas normal kadar kolesetrol. Petugas medis yang meriksa saya mengatakan dua ratus. Sementara kadar kolesterol saya mendekati dua kali liat angka normal. Saya bingung dan saya merasa sehat-sehat saja waktu itu.

Tenaga medis itu kembali  bertanya, “Pusing atau pegal di leher dan bahu...?” Saya jawab tidak tapi tiga atau empat hari lalu memang pegal tapi sekarang sudah hilang, jawab saya apa adanya.
(Foto: pixabay)

Perbincangan beberapa hari lalu itu membuat otak saya bekerja, mencoba menghubungkan berbagai potongan-potongan aktivitas  sehari-hari saya serta makanan yang biasa saya konsumsi. Sepertinya memang ada yang salah dengan kondisi tubuh, pikir saya saat masih duduk terdiam di salah satu kursi di gedung Grhatama Pustaka.

Kembali saya mencoba mengingat apa yang saja yang baru saya alami. Saya mencoba berdiri. Pandangan saya tentang situasi sekeliling mulai normal dan seperti yang saya kenal seperti biasa, sebagaimana saya kenali.

Setelah mengembalikan buku, saya menunju ke rak buku yang berisi tentang kesehatan. Pertamakali  saya cari adalah buku dengan judul yang mengandung kata kolesterol, stroke dan jantung.
(Foto:Ko In) 

Tanda-tanda yang mengkhawatirkan
Mengapa ? Sebab dari cerita beberapa kenalan dan membaca informasi di internet  atau grup WhatsApp mesti waspada dengan gejala seperti yang saya alami.

Pandangan kabur dan sulit berjalan karena keseimbangan badan atau istilah medis sistem koordinasi terganggu. Kemudian muncul perasaan mual. Ini yang sangat saya takutkan.

 Apa yang saya khawatirkan memang benar. Apa yang saya alami merupakan bagian dari gejala-gejala awal serangan stroke ataupun jantung. Saya hanya terdiam, takut dan perasaan berkecamuk lainnya.

(Foto: Pixabay)
Sambil membolak-balik halaman, saya mencari informasi juga lewat internet. Mencari informasi tentang makanan yang dapat menurunkan kadar koleterol dengan cepat.

Saya ketik kata “buah" dan "kolesterol”, muncul banyak informasi tentang buah yang dapat menurunkan kolesterol. Salah satu yang cepat menurunkan kolesterol adalah anggur merah.

Mengonsumsi anggur merah secara rutin menurut sejumlah penelitian dapat melancarkan peredaran darah ke otak karena mengandung revesratol. Otak membutuhkan darah sebagai sumber oksigen dan zat gizi agar otak dapat bekerja dengan baik. Sebuah penelitian di Jerman menyebutkan revesratol membantu memperkuat daya ingat.

Yang sedikit menghibur saya, ternyata anggur memiliki khasiat menyeimbangkan kadar kolesterol dengan kandungan saponinnya. Zat ini dapat menangkap kelebihan kolesterol dalam tubuh sebelum diserap ke dalam darah. Seimbangnya kadar kolesterol menjauhkan diri dari kemungkinan terkena serangan  jantung.

Segera saya mencari penjual buah terdekat. Setelah bertanya pegawai perpustakaan, ternyata letak penjual buah cukup jauh. Khawatir akan kondisi tubuh, saya pelan-pelan menuju tempat yang dimaksud dengan mengendarai sepeda motor.
(Foto: Ko In)

Bersyukur saya mencapai kios penjual buah, tanpa banyak tanya saya membeli satu kilogram anggur merah. Saat itu harganya Rp 35.000 per kilonya. Kemudian minta ijin untuk istirahat dan numpang duduk sambil menjelaskan kondisi tubuh yang kurang sehat.

Sambil istirahat saya mulai memakan anggur merah satu persatu. Saat tidak ada pembeli, penjual buah mengajak ngobrol dan bicara tentang banyak hal. Sampai akhirnya penjual itu cerita jika memiliki masalah yang sama,  kadar kolesterolnya tinggi.

Hampir satu jam saya berada di kios buah. Tidak terasa anggur merah yang saya beli sudah ringan untuk dijinjing. Badan terasa lebih hangat, lebih enak, ringan, pandangan menjadi lebih jelas. Pikiran mudah fokus.

Waktunya untuk pamit dan tidak lupa saya mengucapkan banyak terimakasih. Ibu penjual buah beserta anak dan cucunya melepas saya pergi dengan pesan singkat, "Hati-hati".
(Foto:Pixabay)

Hari itu merupakan hari yang tidak akan pernah saya lupa. Sejak itu saya menjadi lebih rutin  olahraga setiap harinya walau hanya sekitar 30 menit. Serta selau sedia anggur merah di lemari pendingin.

Rutin makan anggur merah
Walau sering makan buah anggur merah bukan berarti bebas dan sekehendak hati makan berbagai jenis makanan. Kini saya mulai mengurangi gorengan, menghindari sayur yang diolah dengan santan. Lebih baik sayur dikukus daripada di rebus apalagi digoreng, seperti sayur oseng.

Anggur merah kini menjadi semacam cemilan wajib setiap hari. Terkadang saat menunggu lampu lalulintas berwarna hijau, nyemil satu dua anggur merah. Bijinya tidak dibuang tetapi saya kunyah juga.

Buah seperti zat pembersih bagi tubuh supaya tetap sehat dan segar. Tubuh memiliki sistem peringatan dini namun terkadang kita sering mengabaikannya. Paling mudah saat BAB. Manakala susah BAB, itu pertanda tubuh kurang asupan makanan berserat yang banyak terkandung di buah serta sayuran.
(Foto: Ko In)

Walau hampir setiap hari makan anggur merah saya tidak boleh mengabaikan untuk rutin makan sayur saat makan siang. Pagi sarapan roti sementara malam jenis makanan kerap tidak terkontrol. Terkadang sulit untuk menolak ajakan teman dan permintaan dari orang tersayang untuk makan di luar.

Maka salah satu cara untuk menjaga tubuh supaya tetap bersih, sejak mengalami peristiwa aneh, terkait dengan kondisi tubuh saya saat di Grhatama Pustaka. Konsumsi buah menjadi hal wajib yang harus dikonsumsi setiap hari dan makan sayuran.

Jika rumah kita selalu disapu setiap hari untuk membersihkan debu dan kotoran. Mengapa tidak, tubuh kita dibersihkan dengan buah-buahan.

Masalahnya harga anggur merah itu tidak stabil, sering naik turun atau fluktuatif. Adakalanya sampai Rp 60 ribu per kilonya namun pernah juga murah sampai Rp 25 ribu untuk satu kilo. Tetapi jika harga stabil biasanya berkisar antara Rp 30 ribu sampai 40 ribu.
(Foto: Ko In)
(Foto:Ko In) 

Namun hal itu tidak mengurangi minat untuk mengonsumsi buah secara teratur sebab masih banyak buah yang memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh. Termasuk menjaga keseimbangan kolesterol seperti mangga, apel, peer, alpukat dan pepaya.


Rabu, 12 Desember 2018

Hati-hati dengan Bujuk Manis di Balik Kata "Mencoba"

Hati-hati dengan Bujuk Manis di Balik Kata "Mencoba"
(Foto: Ilustrasi Nasional Kompas)
Isi pesannya sederhana. Pesan itu masih tinggal di telinga walau sudah lebih dari lima belas tahun lalu diucapkan. Dan penyampai pesannya pun, mungkin jasadnya sudah bercampur dengan tanah.
"Jangan pernah mencoba," pesannya pendek dengan tatapan mata sayu. Seolah tidak ada lagi semangat hidup yang terpancar dari matanya. Badannya nampak terus menyusut dari minggu ke minggu walau masih kelihatan segar. Setiap kali bertemu, nampak semakin kurus.
Setiap kali bicara, mulutnya selalu menyampaikan ucapan penyesalan. Seperti seseorang yang masuk ke lobang sangat dalam dan tidak dapat keluar walau berbagai usaha telah dia lakukan. Lobang itu telah menjerat sisa hidupnya.
"Gak mungkin aku menyendiri. Aku butuh teman. Namun setiap kali ketemu dengan mereka. Sengaja atau tidak sengaja. Susah untuk tidak minta dan memakai," keluhnya.
Stop Narkoba (Foto: Ko In)
Stop Narkoba (Foto: Ko In)
Untuk berteman dengan lingkungan atau orang baru, selalu dilihat dengan tatapan penuh kecurigaan bahkan tidak sedikit yang sengaja menjauhinya. Deritanya seolah tidak pernah usai keluar dari bibir penyalahgunaan narkoba yang ingin lepas dari jeratan narkoba, yang membelenggu masa muda hingga akhir hidupnya.
Wajah beda artis penyalahguna narkoba(Foto: BNN Sleman)
Wajah beda artis penyalahguna narkoba(Foto: BNN Sleman)
Manisnya Bujukan
Saya bertemu seminggu sekali dalam upaya pendampingan dengan para pengguna narkoba yang ingin lepas dari perangkap serta ikatan narkoba, yang tidak tampak tapi nyata merusak kehidupannya.
Awalnya, dia kenal narkoba sebagaimana kebanyakan remaja lain. Sifat ingin tahu yang besar. Namun karena kesalahan pergaulan, kesalahan pemahaman dan minimnya pengetahuan tentang bahaya narkoba. Dia terperangkap oleh manisnya bujukan kata "Mencoba". Dari teman atau yang muncul dari keinginan diri sendiri.
Berawal dari hanya mencoba ingin merasakan dan ingin tahu. Saat itulah, hidupnya tergadaikan oleh narkoba. "Mencoba yang lain boleh. Tapi jangan sekali-kali mencoba narkoba".
sumber foto : laakarilehti.fi
sumber foto : laakarilehti.fi
Mulanya, seperti saat ingin mencoba bagaimana rasanya merokok. Setelah itu muncul sensasi yang mengakibatkan ketagihan atau kecanduan dan terus berlanjut. Sementara untuk mengakhiri dan menghindari butuh usaha serta perjuangan yang tidak mudah.
Demikian halnya dengan penyalahguna narkoba. Butuh dukungan dan bantuan dari orang-orang di sekitarnya. Bukan hanya keluarga tetapi juga lingkungan. Termasuk lingkungan studi, pekerjaan dan lingkungan sosial lainnya.
Sebab seseorang yang sudah ketagihan narkoba, dengan hanya mendengar kata yang menunjuk narkoba atau zat psikotropika lainnya. Dorongan untuk menggunakan, mengonsumsi menjadi sangat besar. Bahkan tak jarang, tidak terkendalikan. Berusaha sekuat tenaga memenuhi keinginannya dengan cara apapun. Walau segala macam cara dan bentuk penolakan sudah dicoba.
Jika gagal, maka sia-sia terapi atau upaya yang telah dilakukan untuk menjauhkannya dari napza. Harus mulai dari awal, waktu dan tenaga serta pikiran, menjadi tidak bermakna. 
Bantu mereka untuk stop narkoba (Foto:Ko In)
Bantu mereka untuk stop narkoba (Foto:Ko In)
Beberapa minggu sebelum pertemuan terakhir dengan Budi, sebut saja demikian. Dia bercerita tentang Adi (nama samaran) untuk menghargai keluarga dan temannya. Yang memahami dan mengerti usaha dari mereka, yang mencoba membantu melepaskan dari jeratan napza atau narkotika, obat psikotropika dan zat adiktif lainnya. 
"Adi, sudah meninggal mas. Lima hari lalu," kata Budi dengan nada datar. Saya terkejut mendengar kabar itu, sebab Adi setiap kali bertemu dan bercerita seolah menemukan kembali harapannya untuk sembuh. Terpancar keinginan kuatnya untuk sembuh dalam tiap kata-kata yang diucapkannya.
Adi meninggal karena HIV/Aids yang mendekam di tubuhnya. Penyakit itu diperolehnya diduga kuat saat menggunakan jarum suntik secara bergantian manakala menyalahgunakan napza.
Pesan Terakhir
Jadwal pertemuan rutin dengan Budi tiba namun dia mulai kerap tidak datang. Saya memaklumi karena tubuhnya menjadi sangat rentan dan mudah sakit-sakitan manakala berusaha melawan keinginan mengonsumsi narkoba.
Berharap ketemu Budi tiap minggunya namun berita duka yang sampai ketelinga. Budi meninggal karena over dosis. Teringat jelas pesan singkatnya saat terakhir ketemu. "Jangan pernah mencoba".
(Sumber www.updateahloo.com)
(Sumber www.updateahloo.com)
Yogyakarta tempat remaja mencari ilmu. Sifat ingin tahu masih bergelora, disalurkan lewat kegiatan edukatif yang membantu memperoleh ilmu pengetahuan sebagai bekal menapaki masa depan yang terus menerus berubah.
Ilmu dan pengetahuan mengajarkan orang untuk mengerti. Memahami tentang yang baik, yang baru, yang menakjubkan dengan cara santun dan rendah hati. Tentang yang benar atau yang salah. Suara hati menjadi nahkoda yang tidak bosan mengingatkan manakala cara pikir dan bertindak mulai keluar jalur.
Penggunaan narkotika, psikoktropika dan zat adiktif lainnya dan diatur dalam Undang-Undang tersendiri. Seperti tercantum dalam UU No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika. 
(Foto: BNN Sleman)
(Foto: BNN Sleman)
(Foto: BNN Sleman)
(Foto: BNN Sleman)
Kepala Badan Narkotika Nasional Kabupaten Sleman, AKBP Siti Alfiah menyebutkan 30 orang meninggal setiap harinya karena overdosis, sebagaimana hasil survei dari BNN. Sementara menurut laporan badan kesehatan PBB di tahun 2017, jumlah penyalahgunaan narkoba mengakibatkan kematian 520 orang per harinya di seluruh dunia. 
Lebih khusus, Siti mencermati angka penyalahgunaan narkoba di lingkungan pendidikan yang mencapai 23,7 persen atau sekitar 800 ribu kasus.
Yogya pernah menduduki rangking ke dua  secara nasional dalam prevalensi angka penyalahgunaan narkoba di tahun 2008. Rangking tersebut tiap tahun berubah, tidak lepas dari kesigapan aparat dalam upaya melakukan pencegahan dan penanggulangan penyalah gunaan narkoba. 
Sembilan tahun kemudian, tahun 2017 Yogya berada di posisi 31, posisi tersebut perlu mendapat apresiasi karena keterlibatan banyak pihak dalam upaya meneyelamatkan generasi muda dari ancaman narkoba lewat berbagai usaha serta kegiatan. 
Kepala BNN Sleman (Foto: Ko In)
Kepala BNN Sleman (Foto: Ko In)
Siti mengungkapkan keprihatinannya karena saat ini para bandar narkoba telah menjadikan desa sebagai sasaran sebagai salah satu jalur masuknya narkoba. Untuk itu masyarakat desa dan pemerintahan desa harus berperan aktif dalam memerangi narkoba. 
Perlu perhatian khusus untuk daerah rawan penyalahgunaan narkoba seperti desa yang dekat dengan lokasi kampus, yang banyak mahasiswa atau pelajar.
(Foto: BNN Sleman)
(Foto: BNN Sleman)
(Foto: BNN Sleman)
(Foto: BNN Sleman)
Untuk itu Siti Alfiah berpesan agar masyarakat lebih cermat mengenali ciri-ciri orang yang menyalahgunakan narkoba. Selain dibuktikan dengan tes urine, pengamatan fisik dapat dilakukan jika melihat tanda atau gejala seperti orang yang tangannya banyak bekas sayatan atau suntikan.
Bicaranya pelo atau cadel, kebersihan dan kesehatan diri tidak terawat, sering mengurung diri di kamar mandi dan sering menghindar untuk bertemu dengan sesama anggota keluarga. Menjadi lebih emosional atau agresif. Atau menemukan alat bantu penyalahgunaan narkoba seperti jarum suntik, bong atau alat penghisap. 
(Foto: BNN Sleman)
(Foto: BNN Sleman)
Dalam kesempatan bertemu sejumlah blogger Yogya, Siti Alfiah menyebut beberapa hal yang dapat dilakukan masyarakat untuk mencegah penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.
Diantaranya, melakukan kampanye perilaku hidup sehat, menyebarkan informasi tentang bahaya  penyalahgunaan narkoba. Ikut berperan aktif dalam pencegahan dan menanggulangi peredaran gelap narkoba serta penyalahgunaannya.
Ikut terlibat dalam edukasi dini tentang bahaya penyalahgunaan narkoba kepada siswa, anak-anak atau anggota masyarakat lainnya di lingkungan. Baik lingkungan keluarga atau masyarakat seperti di tingkat desa atau kampung dalam kegiatan rutin bulanan seperti rapat RT atau pertemuan rutin ibu-ibu. 
(Foto: BNN Sleman)
(Foto: BNN Sleman)
Nah, sejauh mana keterlibatanmu dalam memerangi penyelahgunaan narkoba beserta peredaran gelapnya? Semuanya tidak cukup dengan mengatakan "Stop Narkoba". Tapi perlu aksi nyata, salah satunya jangan pernah mencicip atau mencoba narkoba. Karena itu bujuk rayu manisnya narkoba lewat kata "icip-icip" atau "mencoba". 

Mencoba baca artikel ini di www.kompasiana.com/koin1903 boleh boleh saja

Itsmy blog

 It's my mine