Minggu, 30 Desember 2018

Memancing di Kemuning, Umpan Kulempar Ingkung Ayam Kudapat

Hutan Jati (Foto:Ko In)


                Jalannya tidak lebar, tidak juga lurus. Tidak juga halus karena dikeraskan dengan semen dan batu, bukan aspal. Berkelok dan naik turun. Sejauh mata memandang hanya pohon jati dan kayu putih yang mulai meranggas.
Satu persatu daunnya jatuh dengan perlahan, ke kanan dan ke kiri. Seperti gadis yang malu-malu ingin mengajak berkenalan, mendekat namun saat didekati malah menjauh. Membuat saya semakin penasaran yang baru pertamakali berkunjung ke dusun Kemuning, desa Bunder, Kecamatan Patuk, Gunung  Kidul, Yogya.
Jalan berkelok dan naik turun (Foto:Ko In)

Mendung Menggantung di atas hutan jati (Foto: Ko In)

Letaknya di tengah hutan jati. Jauh dari jalan utama Yogya Wonosari.  Walau waktu tempuh tidak sampai satu jam dari kota Yogya, jaraknya  kurang lebih sekitar 35 kilometer.
Tanah tandus dan kering ciri khas dari daerah Gunung Kidul. Kemarau belum juga berlalu. Walau mendung sudah menggantung di langit tetapi masih butuh waktu untuk menurunkan butiran-butiran air ke atas hamparan tanah yang sudah dipenuhi dengan lembaran daun jati kering.
Sesekali  terdengar suara deru mesin sepeda motor di kejauhan. Dari suaranya seolah bisa menebak jika kendaraan tersebut sedang di jalan landai, naik atau turun. Suasana sekeliling hutan sepi, bahkan suara burung pun jarang terdengar. Mungkin karena kemarau, pohon meranggas dan panas sehingga burung enggan bermain di pohon-pohon jati.
Tanah penuh daun kering (Foto:Ko In)

“Petok.....petok.....petok.....,” tiba-tiba terdengar suara ayam, lari keluar diantara pepohonan jati dan rimbunnya tumpukan daun jati di tanah. Cukup mengejutkan siapa pun yang ada di dekatnya  sebab nampak tidak ada apa pun. Kecuali pohon jati, pohon kayu putih dengan daunnya yang berguguran serta angin yang menerbangkan daun jatuh menjauhi pohonnya.
Ayam itu terkejut juga bukan karena ada orang tetapi karena ada daun jati yang jatuh meliak-liuk seperti hewan pemangsa dari atas langit.
Ayam itu terus berlari menjauh bersama suaranya yang mulai menghilang diantara pohon dan tumpukan daun-daun jati yang menyamarkan keberadaannya lagi.
Rasa terkejut itu, menyadarkan tujuan kedatangan ke dusun Kemuning. Melihat telaga Kemuning, walau airnya nampak keruh tapi tidak pernah kering disaat musim kemarau  yang panjang di Gunung Kidul .
Telaga Kemuning (Foto: Ko In)


Tantangan atau kendala itu peluang dan aset
Telaga Kemuning tengah berproses menjadi daerah tujuan wisata dan siap bersaing dengan daerah tujuan wisata lainnya di Gunung Kidul. Optimisme itu nampak dari sorot mata Suhardi, Kepala Dusun Kemuning  yang melihat setiap tantangan atau kendala sejatinya adalah peluang.
Demikian pula saat disinggung jauhnya lokasi telaga atau pemancingan dengan jalan raya atau jalan masuk.
“Kekurangan menjadi tantangan bahkan dapat menjadi aset,” ucapnya mantap.
Kepala Dukuh Kemuning, Suhardi (Foto:Ko In)

Untuk mengatasi sulitnya akses ke Telaga Kemuning, sebab bus pariwisata ukuran besar belum dapat menjangkau ke dalam hutan. Terpikir oleh Suhardi, untuk menjemput wisatawan dengan kendaraan pick up bak terbuka . Sehingga wisatawan dapat melihat langsung hutan jati di kanan-kirinya.
Sampai di telaga Kemuning, wisatawan dapat menikmati berbagai pemandangan dan menikmati berbagai macam sajian kuliner dari ikan. Oktober,  Suhardi dan warga sedang mempersiapkan membangun warung sederhana di pinggir telaga. Sekaligus mulai mempromosikan nasi kembul bujono atau nasi ingkung, yang terdiri dari nasi, sayuran dan ayam jawa atau ayam kampung.
Walau akses jalan masih menjadi kendala namun mereka yang memiliki hoby mancing sudah memanfaatkan telaga Kemuning sebagai sarana rekreasi. Deru suara motor yang terdengar tadi salah satunya adalah pengunjung telaga, yang datang dari jauh untuk mancing.

Telaga Kemuning potensi wisata baru Gunung Kidul (Foto; Ko In)

Beberapa pemancing nampak menarik alat pancingnya, namun tanpa hasil. Kembali memasang umpan di kail dan melempar jauh ke tengah telaga. Kemudian menunggu lagi umpan dimakan ikan.  Soal ketersediaan ikan, mancing mania tidak perlu khawatir sebab Dinas Kelautan dan Perikanan Gunung Kidul rutin memasok ikan ke telaga.
“Bibit ikan nila dan tawes dibantu dari Dinas Kelautan dan Perikanan Gunung Kidul,” jelas  Anisa Herdanigtyas, warga dusun Kemuning yang selalu mendampingi Suhardi dalam upaya mengembangkan dusunnya. Menjadi daerah tujuan wisata alternatif lainnya di kabupaten Gunung Kidul.
Bahu membahu untuk Kemuning (Foto:Ko In)

“Akses jalan yang sulit menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi memancing di tengah hutan jarang ditemui di daerah lainnya” tambah Nisa, panggilan akrab sehari-harinya . Seolah mengamini apa yang disampaikan Suhardi, yang menyebutkan kekurangan adalah tantangan sekaligus aset.
Sementara itu Eli Martono dari Dinas Pariwisata Gunung Kidul membenarkan masalah akses menuju telaga menjadi kendala tersendiri. “Namun dengan berkembangnya beberapa desa wisata yang basisnya juga kuliner dan restoran baru yang tidak jauh dari Kemuning. Desa Kemuning dapat menawarkan hal baru lainnya dengan mengangkat kelebihan yang dimiliki. Seperti kuliner di tengah hutan,” contoh Kabid Industrial Kelembagaan Dinas Pariwaisata Gunung Kidul.
Eli Martono (Foto :Ko In)

Suhardi dan Blogger (Foto:Ko In)

Suhardi yang memiliki postur tubuh cukup tinggi menyadari jika hanya mengembangkan wisata berbasis ikan harus bersaing dengan tempat atau daerah lain. Untuk itu, Kepala Dukuh ini tengah menyiapkan nasi ingkung ayam jawa atau nasi kembul bujono menjadi daya tarik alternatif lainnya untuk dusun Kemuning.

Nasi ingkung daya tarik Kemuning
Menawarkan nasi ingkung ayam sama artinya melestarikan budaya serta tradisi yang sudah berkembang dan berjalan cukup lama. Tradisi kembul bujono dengan makan nasi ingkung ayam jawa lengkap dengan sayur-sayuran sudah rutin dilaksanakan setiap tahunnya.
“Diselenggarakan minimal setiap satu tahun sekali saat upacara adat rasulan atau saat acara bersih desa,” jelas Suhardi.
Ingkung ayam (Foto: Ko In)

Kepala Dusun yang selalu bersikap optimis dalam mengembangkan dusunnya. Tak segan menjelaskan makna filosofi dari nasi ingkung yang menjadi sajian adat di desanya yang dapat ditawarkan menjadi daya tarik wisatawan.
Ayam ingkung, dari ayam jawa atau ayam jago. Ayam laki-laki. Disajikan sedemikian rupa sehingga terlihat manengkung atau nampak seperti bersujud. Artinya sebagai manusia, orang harus selalu menyembah kepada Yang Maha Kuasa. Demikian pula dengan nasinya yang gurih diharapkan menjadi warna bagi kehidupan.
Sementara bentuk nasi dibuat mengkerucut dan lurus  ke atas untuk mengingatkan mereka yang menyantap nasi ingkung untuk melihat ke atas. Dilengkapi dengan berbagai sayuran seperti kacang panjang, daun pepaya, kangkung dan bayam.
Nasi ingkung dengan sayuran (Foto: ko In)

“Kacang panjang, sebagai manusia kita harus memiliki pikiran atau penjangkauan yang jauh kedepan atau panjang. Daun pepaya yang rasanya pahit. Menyadarkan manusia untukmemahami bahwa kehidupan itu tidak selalu pahit,” jelasnya dengan sangat  lancar.
Kangkung, memiliki makna simbolis sebagai manusia harus winangkung atau lebih dari orang yang lain. Lebih dalam arti positif. Sedangkan daun bayam atau bayem diharapkan manusia dalam menjalani hidupnya itu ayem tentrem, penuh kedamaian dan rasa aman serta nyaman.  
Cara makannya juga seru. Dimakan secara bersama-sama langsung dengan tangan tanpa sendok dan garpu. Dari hal sederhana tersebut sebenarnya terbangun kebersamaan, keakraban dan kedekatan yang dapat mengikis sikap canggung.
Makannya beralaskan daun. Bukan daun pisang tetapi daun jati, yang banyak tersedia di dekat rumah warga. Minumannya wedang secang hangat yang berwarna merah, merah alami berasal dari kulit kayu pohon secang.
Piring daun jati dan minuman kulit kayu secang (Foto:Ko In)

Jangan lupa sambal (Foto:Ko In)

Mengembangkan nasi ingkung menurut penilaian Kepala Bidang Industrian Kelembagaan Pariwisata Gunung Kidul, Eli Martono kuliner yang sudah berkembang di masyarakat yang dicari wisatawan bukan menu modern.
Menu menarik wistawan menu yang ada di desa dimana semua orang desa dapat membuatnya sehingga tidak perlu belajar dari tempat lain, tambah Eli .
“Seperti sayur lombok ijo, nasi merah, nasi ingkung. Bahkan bahan bakunya tersedia di kampung atau desa.” Eli mencontohkan.  
Bahan baku menurt Nisa sangat banyak di kampung hampir setiap rumah memilki ayam kampung. “Dengan mengembangkan kuliner nasi kembul bujono atau nasi ayam ingkung jawa. Nilai jual ayam menjadi dua kali lebih mahal. Dan hal itu cukup menguntungkan,” jelas gadis bertubuh mungil dan gesit .
ayam jago (Foto:Ko In)

Posyandu Hewan (Foto:Ko In)

Suhardi yang sudah enam tahun menjabat sebagai kepala dusun menambahkan, kesehatan ternak di desanya selalu dalam pantauan kesehatan Dinas Peternakan Gunung Kidul. Di Kemuning setiap tiga bulan sekali terdapat kunjungan dari petugas kantor Dinas Peternakan untuk memeriksa hewan peliharaan warga. Seperti sapi, kambing dan ayam. Ada tiga titik posyandu hewan masing-masing ada di Rt 1, 2 dan 3.
Khusus untuk ayam, petugas kesehatan hewan biasanya datang du sore atau malam hari. Ini dilakukan karena siang hari ayam-ayam bebas berkeliaran di hutan. Sehingga sulit untuk memberikan vaksin atau pengobatan.
Demikian pula untuk mendapatkan ingkung ayam yang enak, tidak mungkin memesan secara mendadak perlu pesan jaun sebelumnya. Sebab, merebus ayam dalam air yang sudah diberi berbagai bumbu akan membuat bumbu meresap ke dalam daging ayang dan membuat cita rasa nikmat tersendiri.

Sinergi KBA Kemuning dengan desa atau kampung tetangga
Tidak mudah untuk mengembangkan sebuah wilayah atau desa menjadi desa yang mandiri serta produktif. Dusun  Kemuning di desa Bunder Pathuk Gunung Kidul menghadapi berbagai kendala seperti akses jalan yang harus pintar-pintar disikapi.
Solusi manis datang dari Karnanda dari Astra. Menurutnya masalah di Kemuning harus dipecahkan bersama dengan desa-desa di dekatnya . Dengan harapan, desa-desa sekitar kampung atau desa yang menjadi binaan Astra dapat ikut berkembang dan merasakan perubahan.
Gerbang desa (Foto; Ko In)

“Untuk itu perlu dicari orang sebagai motor, yang mampu menggerakkan warga seperti  Kepala Dukuh Kemuning, Suhardi. Desa tetangga harus memiliki people champion atau motor,” jelas Karnanda Kurniardhi dari Astra.
Masalah akses jalan menurut Karnanda yang akrab dipanggil Nanda sebagai Manager Head of Internal Relations Departemen Corporate Comunications Division di Astra. Tidak sebatas pada lebar sempit jalan tetapi bagaimana merangkul dan melibatkan desa tetangga dalam kegiatan pembangunan.
Nanda (Foto:Ko In)

 “Bagaimana menjadikan telaga Kemuning, sebagai milik sekaligus aset bersama tidak hanya milik dusun Kemuning. Perlu people champion, penggerak atau motor yang dapat memotivas serta menggerakkan masyaraka di desa atau kampung tersebut,” tambah Nanda.
Sehingga kampung di dekatnya dapat dibina oleh Astra namun titik berat pembinannya tidak sama seperti Kampung Berseri Astra (KBA) yang sudah dibina terlebih dahulu.  Tetapi memperhatikan kebutuhan serta keberlangsung kelanjutan dari desa yang ada supaya dapat bersinergi dengan KBA.
Nanda mencontohkan, Kemuning tidak eksklusif untuk desa mereka saja tetapi harus merangkul kampung atau desa lain ikut andil memaksimalkan dan meningkatkan produktivitas di kampung atau desanya sendiri.
Di kelilingi hutan dan bukit (Foto: Ko In)

Memperhatikan potensi yang dimiliki kampung atau desa tetangga serta people champion atau penggerak di kampung atau desa tersebut. Supaya kegiatan di KBA dan kampung atau desa di dekatnya dapat saling bersinergi, jelas Nanda,
Tak terasa, percobaan saya memancing di telaga Kemuning dari tadi dengan melempar umpan berkali-kali ke tengah telaga tidak membuahkan hasil. Diam-diam hal itu diperhatikan Kepala Dusun Suhardi, yang kemudian menawari saya makan siang nasi kembul bojono di balai dusun Kemuning.
Tawaran yang sayang jika disia-siakan. Kapan lagi memancing ikan, dapat ingkung ayam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Itsmy blog

 It's my mine